Benih Unggul Diyakini Kerek Produktivitas Kebun Sawit Grup Sinar Mas

Grup Sinar Mas Agribusiness and Food optimistis benih unggul bermerek EKA 1 dan EKA 2 mampu meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit perseroan hingga 10 ton per hektare (ha).
Juli Etha Ramaida Manalu | 31 Juli 2018 21:54 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA—Grup Sinar Mas Agribusiness and Food optimistis benih unggul bermerek EKA 1 dan EKA 2 mampu meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit perseroan hingga 10 ton per hektare (ha).

Managing Director for Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement Sinar Mas Agribusiness and Food Agus Purnomo mengatakan, benih ini pun sudah diluncurkan sejak April 2017 lalu.

“Prosesnya kalau kami bisa keluar dengan angka 8,10, hingga 12 ton per ha, itu karena ada kebun penelitian tapi itu juga belum sampi satu daur. Kita juga belum tahu persisnya berapa maksimum dia berbuah, dan berapa lama berbuah, kita masih akan uji coba,” jelas, Selasa (31/7).

Dengan hadirnya bibit baru ini, perusahaan diprediksi baru bisa meningkatkan produksi dengan hasil maksimum sekitar 10 ton per ha pada 2035.
Pasalnya, perseroan membatasi program replanting atau peremajaan tanaman maksimum sekitar 15.000-20.000 hektar per tahun dengan luas tanam sekitar 500.345 ha termasuk kebun plasma.

Pembatasan luasan areal peremajaan sawit ini memang sengaja diterapkan untuk dua tujuan yakni menjaga pemasukan serta bujet investasi serta mengantisipasi peningkatan efek rumah kaca.

Dengan memperluas area replanting, berarti akan mengurangi area panen dan pada yang sama, perusahaan juga harus mengeluarkan biaya investasi untuk investasi replanting berupa pengadaan pupuk dan lain-lain.

“Jadi, replanting itu akan dijaga pada level yang kurang lebih sama seperti sekarang antara 15.000 ha ke 20.000 ha. Artinya, kalau replanting ini berjalan terus, maka saat di mana kami mencapai produktivitas rata-rata 10 ton per ha itu mungkin masih 15 tahun lagi dari saat ditanam. Berarti, kalau 2 tahun persiapan, 2035 kita akan punya barangkali sudah pada average10 ton per ha,” jelasnya.

Kendati demikian, dia menekankan bahwa produktivitas tersebut masih akan tergantung pada variasi benih yang digunakan. Pasalnya Eka 1 dan eka 2 akan diproduksi dalam berbagai variasi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan atau karakteristik lahan.

Lahan milik perusahaan yang tersebar di sejumlah daerah membuatnya membutuhkan lebih dari dua variasi bibit. Pasalnya, karakteristik tanah di setiap lokasi berbeda. Ada lokasi yang pasokan airnya terjaga sepanjang tahun, ada pula yang tidak.

“Kita tidak menanam bibit yang sama untuk keseluruhan 500.000 ha karena setiap kebun punya karakteristik sendiri.Karena karateristiknya berbeda, produktivitasnya juga akan sedikit berbeda yang tahan kering akan beda dengan tahan banjir,” katanya.

Saat ini perseroan telah memiliki fasilitas pembibitan yang baru diselesaikan pembangunannya pada akhir tahun lalu. Fasilitas pembibitan ini disebut bisa menyediakan hingga sekitar 4 juta bibit nantinya.

Produktivitas tinggi ini menjadi salah satu cara perusahaan mewujudkan sustainable development goals (SDGs). Pasalnya, bila dibandingkan dengan penghasil minyak nabati lain seperti rapeseed dan kedelai, selain produktivitas yang lebih tinggi, sawit juga membutuhkan pestisida dan pupuk yang jauh lebih sedikit. (Juli E.R.Manalu)

Tag : kelapa sawit
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top