Bakal Bersaing dengan Patimban, IKT Jaga Pangsa Pasar Penanganan Kendaraan

Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) bakal menjaga pangsa pasar penanganan kendaraan seiring dengan rencana pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat.
Rivki Maulana | 29 Mei 2018 17:48 WIB
Petugas memasukkan mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang siap diekspor ke dalam kapal di IPC Car Terminal, PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/3/2017). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) bakal menjaga pangsa pasar penanganan kendaraan seiring dengan rencana pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. IKT optimistis, terminal yang dikelola perseroan di Tanjung Priok bakal tetap menjadi pilihan pengguna jasa.

Direktur Utama IKT, Chiefy Adi mengatakan perseroan lewat upaya induk, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) berusaha menjadi operator Pelabuhan Patimban yang mana lelang operator akan dibuka pada Juli 2018 mendatang. Untuk diketahui, tahap pertama Pelabuhan Patimban akan dibangun terminal kendaraan berkapasitas 360.000 unit.

Chiefy mengimbuhkan, terminal kendaraan di Patimban akan melengkapi terminal kendaraan IKT bila Pelindo II memenangkan lelang operator pelabuhan yang didanai pinjaman Jepang tersebut. Namun, bila operator jatuh ke pihak lain, IKT tetap percaya diri bisa bersaing karena keunggulan dari sisi geografis dan operasional.

"Kami sudah teken kontrak long term, jadi dalam waktu dekat kami tidak akan kehilangan pangsa pasar," jelasnya kepada Bisnis.com, Minggu (27/5/2018).

Dia menjelaskan, lapangan penumpukan kendaraan IKT langsung menempel dengan dermaga berkedalaman -12 LWS sehingga proses bongkar muat kendaraan bisa berlangsung cepat. Saat ini, tingkat produktivitas bongkar muat di IKT mencapai 150 kendaraan per jam.

Sementara itu, terminal kendaraan di Patimban akan dibangun menjorok ke laut dan terpisah dari daratan sekitar 1,2 km. Kondisi tersebut menurut Chiefy bisa menyebabkan tingkat salinitas atau kadar garam menjadi lebih tinggi. Hal ini menurut Chiefy menjadi pertimbangan pabrikan otomotif karena salinitas yang tinggi bisa menyebabkan korosi pada kendaraan.

Selain aspek operasional, pengiriman kendaraan dari pabrik otomatik di kawasan industri Cikarang dan Karawang lebih efisien ke Tanjung Priok dibandingkan dengan Patimban. Chiefy menyebut, hanya ada dua pabrikan otomatif yang punya lokasi pabrik lebih dekat ke Patimban

Tag : indonesia kendaraan terminal
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top