Bisnis Mal Masih Progresif

Pengembang properti menilai bahwa bisnis ritel dan mal bisa tumbuh antara 6% sampai 7% tahun ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 28 Mei 2018  |  04:59 WIB
Bisnis Mal Masih Progresif
Summarecon Mal Bekasi - summarecon.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembang properti menilai bahwa bisnis ritel dan mal bisa tumbuh antara 6% sampai 7% tahun ini.

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Adrianto Adhi mengatakan bahwa bisnis online yang semakin gencar saat ini tidak mengakibatkan pelemahan bisnis ritel atau mal. Adrianto menyebut, pengembang yang mengelola sejumlah mal di Summarecon ini mengakui bahwa bisnis ritel mereka masih stabil dan berpotensi terus tumbuh.

“Justru bisnis ritel kami stabil dan bisa tumbuh 6% sampai 7%. Jadi makanya orang bilang online mengancam mal, tidak. Karena menurut catatan kami, bisnis online di ritel baru 45%,” ujar Adrianto kepada Bisnis, Minggu (27/5/2018).

Menurut Adrianto, perusahaan memang mengandalkan sejumlah strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan ritel. Misalnya saja, Summarecon sekarang fokus meningkatkan tenant-tenat mal yang menawarkan jasa atau makanan ketimbang tenant untuk pakaian.

Selain itu, Summarecon juga masih membangun sejumlah ruko-ruko yang membidik end-user sekaligus investor. Menurut Adrianto, investor adalah kelompok pembeli yang terdorong oleh sensitivitas pasar. Sebagai golongan emotional buyer, investor akan membidik potensi produk yang booming.

“Sekarang memang turun karena investor menahan, namun kita masih maintenance terus 90% biar bisa bertahan,” terang Adrianto.

Adrianto menyebut, Summarecon sangat fokus kepada lima township utama yakni Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Bekasi, Summarecon Bandung, dan Summarecon Karawang.

Sementara itu, Senior Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar nomor empat di dunia, Indonesia memang memiliki pasar ritel yang akan terus berkembang. Pada khususnya adalah ritel untuk kelas menengah atas di Greater Jakarta yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

“Beberapa brand melirik Indonesia saat ini dalam suasana pasar yang tidak aktif in karena ketersediaan ruang dan penyewaan yang masih flat,” jelas Ferry dalam laporan Jakarta Market Properti Report dari Colliers International Indonesia yang dirilis pada 8 Mei 2018 lalu.

Dia menyebutkan, millennials Indonesia memiliki aktivitas berbelanja yang bergeser dari tradisional menjadi e-commerce. Kondisi ini telah menekan bisnis ritel. Meskipun begitu, Ferry masih percaya bahwa pusat perbelanjaan masih akan berlanjut dan eksis melampaui perbelanjaan biasa.

“Mereka akan menawarkan experience dan rekreasi. Berdasarkan perubahan e-commerce dan kuantitas dari penawaran online di masa yang akan datang, kedua pemilik ruang dan ritel ini akan terus mengikuti dinamisme pasar yang diakomodasi oleh millennials,” papar Ferry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
summarecon

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top