Lebaran Tahun Ini, Bisnis Parsel Kian Lesu

Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo) memprediksi penjualan parsel pada Ramadan tahun ini menurun 30%.
Agne Yasa | 21 Mei 2018 20:55 WIB
Pekerja menata parsel berbahan kue kering di sebuah pabrik roti di Malang, Jawa Timur, Selasa (13/6). - Antara/Ari Bowo Sucipto
Bisnis.com, JAKARTA -- Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo) memprediksi penjualan parsel pada Ramadan tahun ini menurun 30%.
 
Ikhsan Ingratubun, Ketua Akumindo, mengatakan bisnis parsel di kalangan industri rumahan atau usaha mikro yang dijalankan perorangan ini dari tahun ke tahun semakin lesu. 
 
"Parsel ini ada, tapi belanja barang berkurang, Ramadan tahun ini berkurang 30% dibanding tahun lalu. [Selain itu, juga ]regulasi yang akhirnya membuat menurun," ujar Ikhsan kepada Bisnis, Senin (21/5/2018). 
 
Minat kalangan usaha mikro dan kecil yang mencoba memanfaatkan momentum Ramadan untuk berjualan parsel juga dinilai mulai beralih ke menjual makanan cepat saji yang dinilai lebih menghasilkan. 
  
"Usaha mikro kecil modal utnuk parsel itu memproduksi dan jual. Sekarang lesu, yang jualan keranjangnya juga menurun. Tapi ada, cuma sekarang tidak perlu kios bisa online juga," jelasnya. 
 
Ikhsan menambahkan biasanya parsel yang dijual berkisar dari harga Rp300.000-Rp350.000. Isinya juga beragam mengikuti minat pembeli, mulai dari makanan dan lainnya. 
 
"Biasanya usaha mikro siapkan 20-30 parsel sehari, tergantung belanjanya, dulu bisa habis tapi sekarang 30% berkurang, jadi belum tentu habis," katanya. 
 
Dia menambahkan regulasi yang tidak memperbolehkan pejabat negara menerima parsel membuat pasar berkurang. Saat ini, katanya, pasarnya merupakan segmen swasta. 
 
"Harapannya pemerintah, bisa ada tetap memberikan hadiah,  supaya industri UMKM agar menggeliat, ada regulasi pada keberpihakan usaha parsel atau dicarikan jalan keluar, apa bisnisnya, kalau tidak industrinya pelan-pelan akan mati," jelasnya. 
 
Sementara itu, ritel modern menilai bisnis parsel bukan lagi sebagai sesuatu yang menghebohkan di momentum Ramadan dan Idulfitri meskipun tetap dipersiapkan sebagai salah satu strategi penjualan. 
 
Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta mengatakan peritel modern tetap menyediakan parsel meskipun bukan menjadi fokus utama. 
 
"Bisnis parsel tergantung, kalaupun supermarket, ada tapi kreasi dalam menjual karena barangnya yang memang dijual di ritel modern," ujar Tutum. 
 
Apalagi, katanya, rata-rata kebutuhan konsumsi dan belanja masyarakat memang meningkat ketika Ramadan. Baik itu kebutuhan sandang hingga makanan dan minuman. Hal tersebut, katanya, didorong banyaknya aktivitas dan persiapan jelang Idulfitri. 
 
Saat ditanya prediksi pertumbuhan bisnis parsel, Tutum tidak menyebutkan angka pasti. Namun, menurutnya tren yang berkembang bisnis parsel masih ada namun tidak sebesar seperti beberapa tahun lalu. Seperti diketahui, terdapat aturan yang melarang pejabat negara menerima parsel. 
 
Dari catatan Bisnis, pada Ramadan 2013 Aprindo mencatat pertumbuhan penjualan parsel pernah mencapai 8%. 
 
"Zaman sekarang sudah tidak terlalu. Bukan sesuatu yang menghebohkan lagi, pejabat sudah mulai berkurang. Parsel tetap boleh selama tidak melanggar," katanya.
 
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengatakan pihaknya mencatat jika tahun lalu penjualan parsel tidak terlalu baik di pusat belanja. 
 
"Parsel tahun lalu tidak terlalu bagus ya," ujarnya. 
 
Dia menambahkan beberapa kebutuhan yang penjualannya meningkat signifikan yaitu kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan minuman. 
Tag : lebaran
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top