Pengusaha Rumah Potong Hewan: Produksi Daging Ayam Belum Surplus

Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) menilai produksi ayam ras dalam negeri belum bisa dikatakan surplus jika harga masih Rp20.000 per kg.
Pandu Gumilar | 18 April 2018 19:19 WIB
Pedagang daging ayam. - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) menilai produksi daging ayam ras dalam negeri belum bisa dikatakan surplus jika harga masih Rp20.000 per kg.

Ketua Arphuin Tommy Kuncoro mengatakan pasokan unggas baru dapat dikatakan surplus jika kondisi ayam hidup sudah sesuai yaitu Rp15.000 per kg.

“Surplus artinya pasokan lebih tinggi dari permintaan harga ayam hidup tinggal Rp15.000 per kg. Mana surplus 2018 ? Kalau surplus harga ayam hidup tidak akan Rp20.000-Rp21.000 per kg,” katanya kepada Bisnis Rabu (18/4).

Tommy mengatakan hukum utama yang membentuk harga adalah pasokan dan permintaan.

Menurutnya, bisnis perunggasan di Indonesia itu bersifat fleksibel. Ketika produksi terlalu tinggi, maka pelaku bisnis akan menurunkan jumlah produksi. Praktik seperti ini, kata Tommy, sudah terjadi bertahun-tahun. Sementara industri rumah potong ayam akan fleksibel mengikuti situasi dan kondisi yang ada.

“Tidak ada pelaku usaha yang mau rugi terus menerus. Industri potong ayam juga fleksibel akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada,” katanya.

Neraca daging ayam di Indonesia untuk tahun 2017-2021 diperkirakan akan mengalami surplus dihitung dengan pendekatan antara proyeksi ketersediaan untuk konsumsi dan proyeksi permintaan .

Dalam Outlook Daging Ayam Ras 2017 yang dirilis oleh Kementrian Pertanian pada 4 tahun ke depan tingkat permintaan daging ayam untuk konsumsi langsung dan industri pangan olahan bahan baku daging ayam meningkat rata-rata sebesar 859,82 ribu ton atau 5,68%.

Pada tahun 2018 produksi ayam ras nasional menyentuh angka 2,3 juta ton dengan presentase tercecer 117.000 ton. Sementara konsumsi nasional adalah 1.3 juta ton maka produksi surplus sebesar 854.000 ton.

Sementara pada 2019, produksi ayam ras nasiona adalah 2,5 juta ton dengan ton dengan presentase tercecer 126.000 ton dan konsumsi nasional adalah 1.4 juta ton maka produksi surplus sebesar 973.000 ton. Dibandingkan 2018, tumbuh sekitar 5%.

Pada 2020, produksi ayam ras nasional adalah 2,7 juta ton dengan ton dengan presentase tercecer 136.000 ton dan konsumsi nasional adalah 1.4 juta ton maka produksi surplus sebesar 1 juta ton. Dibandingkan 2020, tumbuh sekitar 4,9%.

Dan pada 2021, produksi ayam ras nasional adalah 2,9 juta ton dengan ton dengan presentase tercecer 145.000 ton dan konsumsi nasional adalah 1.5 juta ton maka produksi surplus sebesar 1,2 juta ton. Dibandingkan 2020, tumbuh sekitar 4,8%.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternakan, daging ayam

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top