YLKI: Masyarakat Bisa Berasumsi Premium Langka

Kenaikan harga Pertalite menuju kisaran Rp7.800 per liter sampai Rp8.150 per liter bisa memicu isu Premium langka di pasaran. Padahal, BBM beroktan 88 itu tidak langka, melainkan jumlahnya yang sudah dibatasi pemerintah.
Surya Rianto | 27 Maret 2018 18:42 WIB
Pertalite. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Kenaikan harga Pertalite menuju kisaran Rp7.800 per liter sampai Rp8.150 per liter bisa memicu isu Premium langka di pasaran. Padahal, BBM beroktan 88 itu tidak langka, melainkan jumlahnya yang sudah dibatasi pemerintah.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abad mengatakan, risiko konsumen kembali migrasi ke Premium sangat besar, tetapi persoalannya kuota Premium sudah dibatasi pemerintah ke setiap wilayah pada kawasan di luar Jawa, Madura, dan Bali.

"Migrasinya konsumen ke Premium bisa meningkatkan permintaan pada bensin RON 88 tersebut. Akhirnya, muncul asumsi kelangkaan Premium," ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (27/3).

Tulus mengatakan, padahal Premium tidak langka hanya saja permintaan yang naik berpotensi melebih angka kuota yang ditetapkan.

Lalu, dia melanjutkan, harga bensin Pertamax dan Pertalite itu adalah jenis BBM umum atau non subsidi.

"Jadi, harga jualnya akan mengikuti perkembangan harga minyak dunia, sedangkan harga minyak mentah dunia saat ini terus beranjak naik," lanjutnya.

Adapun, pada akhir pekan lalu harga Pertalite naik sekitar Rp150 per liter sampai Rp200 per liter di seluruh kawasan Indonesia.

Lalu, asumsi kelangkaan Premium sempat terjadi di kawasan Riau. Pasalnya, terjadi migrasi konsumsi Pertalite kembali ke Premium, sedangkan Pertamina sudah mengganti sarana prasarana Premium menjadi Pertalite seiring permintaan yag tinggi.

BPH Migas pun menegaskan kuota BBM Penugasan atau Premium di Riau masih ada sehingga tidak perlu ada tambahan kuota.

Di sisi lain, Pertamina Riau merespons akan terus mengadakan promo di tengah harga Pertalite yang baru saja naik akhir pekan lalu.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I Rudi Ariffianto mengatakan, pihaknya akan mengandalkan promo-promo menarik minat masyarakat untuk menggunakan Pertalite maupun Pertamax Series.

"Sejauh ini, strategi itu cukup efektif. Bahkan permintaan Pertamax Turbo di kawasan Riau juga naik cukup signifikan," ujarnya.

Pada tahun ini, daerah Riau mendapatkan kuota Premium sebanyak 640.897 kilo liter. Jumlah itu menunjukkan Riau menjadi daerah yang menerima kuota Premium terbesar kedua setelah Sulawesi Selatan yang mendapatkan kuota sebanyak 808.818 kilo liter.

Adapun, kenaikan harga Pertalite bisa signifikan karena mayoritas pengguna BBM beroktan 90 itu adalah pindahan dari konsumen Premium sebelumnya.

Tag : Harga BBM
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top