Udang India dan Vietnam Kena Antidumping AS, RI Harus Manfaatkan Momentum

Ancaman pengenaan tindakan antidumping terhadap udang asal India dan Vietnam oleh Amerika Serikat harus menjadi momentum Indonesia memperbaiki produksi di dalam negeri.
Sri Mas Sari | 22 Maret 2018 20:01 WIB
Udang vaname - Antara/Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA - Ancaman pengenaan tindakan antidumping terhadap udang asal India dan Vietnam oleh Amerika Serikat harus menjadi momentum Indonesia memperbaiki produksi di dalam negeri.

Presiden Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Soetanto mengatakan, tanpa perbaikan di sisi hulu, Indonesia tidak dapat mengisi pasar AS yang kini memberatkan bagi India dan Vietnam.

Perbaikan yang dimaksud adalah peningkatan produksi, perbaikan infrastruktur, dan kemudahan perizinan di daerah. Seperti diketahui

"Kalau kita tidak bisa manfaatkan ini, percuma. Gunakan ini [tindakan antidumping terhadap udang India dan Vietnam] sebagai momentum," katanya, Kamis (22/3/2018).

Di tengah atmosfer kebijakan perdagangan yang cenderung proteksionis, AS segera menaikkan bea masuk antidumping (BMAD) terhadap produk udang India menjadi 2,34% dari 0,84%. Negeri Paman Sam, yang merupakan pasar terbesar udang India, dalam review awalnya (preliminary review) 12 Maret 2018, menyatakan produk frozen warmwater shrimp Negeri Bollywood terbukti dijual di bawah harga normal.

Mengutip Bloomberg, impor udang AS tumbuh 20% pada Januari 2018 menjadi 61.593 ton atau USS$201 juta. Negeri Adidaya itu mengimpor hampir 33% di antaranya dari India. Adapun sepanjang 2017, India mengekspor udang US$2,2 miliar ke AS.

Udang asal Vietnam juga terancam dikenai tindakan antidumping dengan tarif bea masuk sangat tinggi, yakni 25,39%. Mengutip www.seafoodsource.com, pengapalan udang Vietnam ke AS jatuh 7% tahun lalu menjadi US$659 juta di tengah kenaikan nilai ekspor udang negara itu ke sebagian besar negara tujuan.

Sementara itu, berdasarkan data BPS, ekspor udang dibekukan Indonesia tercatat 144.136,9 ton pada 2017, naik 3,1% dari pencapaian tahun sebelumnya. Secara nilai, ekspor naik 8,4% (y-o-y) menjadi US$1,4 miliar. Pasar AS menyerap 98.429,3 ton (US$973,3 juta).

Jika AS nantinya benar-benar mengutip BMAD terhadap udang India dan Vietnam, SCI melihat sentimen kenaikan harga komoditas itu makin menguat, apalagi di tengah keterbatasan pasokan dunia.

SCI merekam harga udang di unit pengolahan bergerak ke US$6 per kg setelah Maret 2017. Harga bahkan hampir menyentuh US$7 per kg pada Oktober tahun lalu. Diperhitungkan dengan kurs Rp13.500 per dolar AS tahun lalu, maka harga udang dunia Rp81.000 per kg.

Asosiasi itu mencatat total produksi udang dunia, baik dari akuakultur maupun tangkap, turun dari hampir 6 juta ton menjadi 5,5 juta ton. Sementara itu, konsumsi udang dunia pada 2011 sebanyak 6 juta ton. Jika konsumsi tumbuh 2% per tahun, maka permintaan udang 2017 mencapai 6,9 juta ton. Permintaan melebihi produksi sehingga harga udang ukuran 50 diprediksi sekitar US$6 per kg.

SCI sebelumnya mengestimasi produksi udang nasional tahun ini bertambah 50.000 ton atau naik hampir 13% setelah tahun lalu mencapai 390.000 ton. Suplai benih yang lebih bermutu diyakini akan mengerek volume produksi.

Namun, Iwan mengatakan proyeksi peningkatan produksi dapat terwujud selama birokrasi di daerah mendukung. Pasalnya, pelaku usaha kerap harus mengeluarkan biaya meskipun pengurusan izin dijanjikan gratis di atas kertas. Dia memberi contoh, untuk membebaskan tanah saja, petambak harus mengeluarkan puluhan miliar.

Di samping itu, ketidakpastian rencana tata ruang wilayah sering mengganggu ekspansi petambak.

Tag : ekspor, udang
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top