Ini Kunci Untuk Membangun Kemandirian di Daerah

Sinergi para pemangku kepentingan dalam membangun desa diyakini dapat mendorong kemandirian di daerah
Agne Yasa | 22 Maret 2018 23:45 WIB
Dana desa - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Sinergi para pemangku kepentingan dalam membangun desa diyakini dapat mendorong kemandirian di daerah.

Salah satunya, kegiatan Universitas Membangun Desa (UMD) yang diprakarsai oleh Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (Kompak), sebuah kemitraan pemerintah Indonesia-Australia.

Tujuannya untuk mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada, dimana Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau program yang sejenis dilaksanakan, untuk menghasilkan dampak yang lebih nyata terhadap desa, komunitas maupun pemerintah daerah.

Astrid Kartika, Unit Manager Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Kedutaan Besar Australia mengatakan UMD merupakan salah satu dari program kerja sama pembangunan antara Indonesia dan Autralia untuk memperkuat pemerintah Indonesia dalam implementasi Undang-Undang Desa.

Menurutnya jika hanya mengandalkan pemerintah desa saja dan fasilitator yang ditugaskan Kementerian Desa belum tentu optimal.

"Desa ada 75.000 seluruh Indonesia. Indonesia dengan kebijakan desentralisasi, ada universitas yang merupakan otak untuk daerah bahkan negara ini, yang mencetak orang-orang, dan punya program KKN, sekali penerjunan bisa ribuan mahasiswa untuk satu universitas," jelas Astrid, dalam acara Forum Berbagi Pengetahuan dan Praktik Baik, Model Kemitraan Kegiatan UMD di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Pihak Kompak melihat adanya peluang untuk menambah armada untuk memperkuat implementasi Undang-Undang Desa melalui mahasiwa yang melakukan KKN.

"Makanya kami berpikir untuk bekerja sama dengan universitas dan menghubungkan dengan pemerintah desa atau kementerian desa, itu sebuah langkah terobosan yang bagus," katanya.

Anwar Sanusi, Sekretaris Jenderal Kementerian Desa PDTT, mengatakan inisiatif UMD memiliki potensi luar biasa untuk menggerakan berbagai komponen bangsa utamanya universitas.

"Bagi universitas, program membangun desa dan KKN sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi," ujar Anwar.

Adapun program UMD dimulai sejak Juni 2016 hingga pertengahan 2017 dengan melibatkan empat universitas.

Empat universitas tersebut yaitu Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Jember, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Aceh dan UIN Alauddin Makassar yang terpilih melalui kompetisi terbuka.

Sampai saat ini, pelaksanaan program UMD telah melibatkan 18 desa, 4 kabupaten, 4 provinsi dan 614 mahasiswa.

Kompak dalam hal ini memberikan pendampingan dalam rancang bangun program di masing-masing universitas, membantu akses peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah, serta evaluasi berkala untuk memastikan prigram berjalan sesuai rencana.

Untuk diketahui, lebih dari 3.000 universitas dan lembaga tinggi di Indonesia melakukan kegiatan KKN atau program yang sejenis.

Melalui UMD, program KKN dan sejenisnya diharapkan memberikan hasil berkelanjutan, salah sarunya lewat model KKN tematik.

Melalui KKN tematik diharapkan dapat berkontribusi positif dan strategis dalam upaya perbaikan penyediaan layanan dasar, pengembangan sistem informasi desa, serta membantu menciptakan peluang kerja di masyarakat.

Didin Wahidin, Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, mengatakan inisiatif UMD ini patut diapresiasi.

Pihaknya juga mengajak agar ke depannya dapat dibangun sinergi dan kolaborasi lebih erat. Didin mengatakan Kemenristek Dikti juga memiliki berbagai program untuk membangun desa dengan meningkatkan peran universitas dan mahasiswa.

"Kemenristek Dikti ada program KKN Kebangsaan, dan banyak program lain. KKN ini fungsinya agar mahasiswa belajar, masyarakat desa belajar, dan nantinya mendorong potensi yang ada di masing-masing desa," katanya.

Suwendi, Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dari Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama mengatakan sudah saatnya desa dan daerah 3T menjadi halaman depan Indonesia dengan mendorong kemandirian daerah.

"Santri masuk desa juga penting untuk kami dorong. Kami juga ada program mahasiswa untuk tinggal di desa selama satu tahun," ujarnya.

Tag : dana desa
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top