ESDM Bakal Bahas Kontrak Blok Migas Jelang Terminasi Pekan Depan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan bertemu dengan kontraktor blok migas yang akan terminasi pada periode 2018-2026 pada pekan depan. Pertemuan itu dilakukan untuk membicarakan terkait kontrak baru pasca terminasi nantinya.
Surya Rianto | 21 Maret 2018 07:53 WIB
Blok migas - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan bertemu dengan kontraktor blok migas yang akan terminasi pada periode 2018-2026 pada pekan depan. Pertemuan itu dilakukan untuk membicarakan terkait kontrak baru pasca terminasi nantinya.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan pihaknya akan mengumpulkan kontraktor blok migas eksis yang akan terminasi pada periode 2018-2026 untuk membahas kontrak baru.

"Skemanya, kami akan terminasi kontrak lama mereka [kontraktor eksis] dan diganti dengan kontrak baru. Apalagi, yang sudah melakukan perpanjangan, berarti tidak pilihan lagi selain mendapatkan kontrak baru," ujarnya, Selasa (20/3/2018) malam.

Aturan baru itu akan mengubah beberapa skema kontrak seperti skema cost recovery menjadi gross split. Selain itu, ada pula pembahasan terkait signature bonus.

Kementerian ESDM juga akan melihat program eksplorasi dan strategi menggenjot produksi migas dari para kontraktor eksis tersebut.

Dalam lima tahun ke depan memang cukup banyak blok yang terminasi. Tahun ini, sejumlah blok yang terminasi yaitu blok Tuban, Ogan Komering, North Sumatera Offshore, North Sumatera B, Sanga-sanga, Southeast Sumatra, East Kalimantan, Attaka, dan Tengah.

Dalam catatan Bisnis, pada 2019 ada empat blok lain yang akan terminasi yakni blok Pendopo Raja, Seram, Jambi Merang, dan Bula.

Pada 2020, ada lima blok yang akan terminasi yaitu Brantas, Jambi B, Kepala Burung, Makassar Strait, dan Salawati. Pada 2021, ada tiga blok lainnya yang terminasi yakni blok Rokan, Selat Panjang, dan Bentu Segat.

Pada 2022, ada empat blok yang tercatat akan terminasi yaitu Coastal Plain Pekanbaru, Sengkang, Tarakan, dan Tungkal. Selanjutnya, pada 2023 ada tiga blok yang akan habis kontrak yakni blok Rimau, Koridor, dan Jabung.

Paling menarik, blok yang cukup besar yakni Rokan akan mengalami terminasi pada 2021. Rokan yang dikelola oleh Chevron Pacific Indonesia mencatat lifting minyak bumi sebesar 224.300 barel per hari atau berkontribusi sebesar 28% dari total lifting minyak bumi Indonesia.

Sementara itu, lembaga konsultan energi Wood Mackenzie menilai Pemerintah Indonesia harus bertindak cepat untuk mengurus blok yang memasuki masa terminasi, terutama Rokan yang portofolio produksinya yang cukup besar.

Analis Hulu Migas Asia Tenggara Wood Mackenzie Johan Utama mengatakan keputusan nasib kontraktor di blok Rokan memang harus cepat diputuskan. Pasalnya, karakter blok ini agak berbeda dengan blok Mahakam.

"Kalau keputusan nasib kontraknya agak lama, investasi dan produksi di Rokan berpotensi besar untuk turun," ujarnya.

Johan menuturkan salah satu blok yang cukup besar lainnya adalah blok Koridor, yang lebih banyak menghasilkan gas. Lantaran sudah memiliki kontrak jual beli gas hingga waktu terminasi, maka mau tidak mau kontraktor harus tetap melakukan investasi dan produksi.

"Kalau Rokan kan sebagian besar hasilnya minyak, jadi cukup susah juga kalau kepastiannya mepet waktu terminasi," terangnya.

Tag : blok migas
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top