Agenda Industri: Pekan Depan Pameran Industri Farmasi Digelar

Pameran yang mempertemukan distributor pelaku farmasi internasional dengan industri lokal dalam tajuk CPhI South East Asia (CPhI SEA) kembali digelar untuk ketujuh kalinya di Jakarta pada 27-29 Maret.
Anggara Pernando | 21 Maret 2018 23:13 WIB
Pameran produk bahan baku industri farmasi, pangan fungsional, serta produk nutrisi dan kesehatan pada CPhI South East Asia dan Hi South East Asia 2017 di Jakarta, Rabu (22/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Pameran yang mempertemukan distributor pelaku farmasi internasional dengan industri lokal dalam tajuk CPhI South East Asia (CPhI SEA) kembali digelar untuk ketujuh kalinya di Jakarta pada 27-29 Maret. 

Event Director PT UBM Pameran Niaga Indonesia Maria Lioe mengatakan dalam ajang ini penyelenggara tidak menargetkan nilai transaksi yang dapat dibukukan. Namun, pihaknya berusaha memfasilitasi sebanyak mungkin pertemuan antara pelaku industri. 

"Kami berusaha mempertemukan supplier dengan industri," kata Maria di Jakarta, Selasa (20/3/2018). 

Melalui pameran dagang khusus industri farmasi ini, Maria berharap lebih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan pengusaha Indonesia, termasuk kemungkinan kerja sama riset dan inovasi. 

“Kami memahami bahwa riset dan inovasi berperan penting dalam kelangsungan industri farmasi Indonesia,” katanya

Pameran farmasi ini akan diadakan di JIExpo Kemayoran dan diramaikan oleh 260 peserta. Panitia mengestimasikan 5.500 pengunjung dari profesional industri farmasi akan berkunjung. 

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian optimistis industri farmasi dalam negeri dapat tumbuh melebihi pertumbuhan sepanjang tahun lalu.

Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Taufiek Bawazier mengatakan industri farmasi di Indonesia masih menjanjikan. Sepanjang tahun lalu, pada kuartal I industri farmasi tumbuh 7,8% dengan kontribusi ke produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp45 triliun.

Pada  kuartal II, industri farmasi tumbuh 7,3% dengan konribusi terhadap PDB senilai Rp46 triliun, tetapi pada kuartal ketiga industri ini mengalami perlambatan sebesar 3,28% dengan nilai kontribusi terhadap PDB yang tetap di angka Rp46 triliun. 

Untuk kuartal akhir 2017, Kemenperin meyakini industri farmasi tumbuh 6% hingga 7% dengan kontribusi terhadap PDB sekitar Rp47 triliun. Dengan demikian, pertumbuhan secara kumulatif pada 2017 diproyeksikan sebesar 6% dengan kontribusi PDB di atas Rp180 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan kontribusi PDB pada 2016 yang senilai Rp173 triliun

“Untuk 2018, industri farmasi akan tumbuh sekitar 6,46%,” ujarnya.

 

 

Tag : farmasi
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top