Ini Indikator Bila Operator Blok Migas Terminasi Ingin Perpanjangan Kontrak

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan meminta operator blok migas terminasi eksis periode 2018 - 2026 untuk memaparkan program strategi menaikkan produksi.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 27 Februari 2018  |  10:39 WIB
Ini Indikator Bila Operator Blok Migas Terminasi Ingin Perpanjangan Kontrak
Ilustrasi pengeboran minyak. - Bloomberg/Jeyhun Abdulla

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan meminta operator blok migas terminasi eksis periode 2018 - 2026 untuk memaparkan program strategi menaikkan produksi. Hal itu menjadi salah satu indikator bila operator eksis ingin mendapatkan perpanjangan kontrak.

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merangkap pelaksana tugas (Plt) Dirjen Migas Ego Syahrial mengatakan, pihaknya akan memanggil sekitar 26 operator yang kontrak blok migasnya habis dalam periode 2018-2026.

"Nanti, kami panggil mereka [operator blok] dan menanyakan program untuk bisa meningkatkan produksi di wilayah kerja masing-masing," ujarnya pada Senin (26/2) malam.

Dia menyebutkan, produksi migas pasti akan turun jika tidak diiringi dengan eksplorasi. Untuk itu, pihaknya meminta operator eksis pada blok jelang terminasi menyiapkan program seperti, pengeboran sumur lebih banyak lagi dan sebagainya.

Adapun, Kementerian ESDM memberikan indikator bila operator eksis pada blok terminasi ingin mendapatkan perpanjangan kontrak.

Ego memaparkan, selain harus meningkatkan produksi di wilayah kerjanya, operator eksis juga harus bersedia menggunakan kontrak bagi hasil kotor atau gross split.

Selain itu, tingkat bonus signature juga harus lebih besar dibandingkan tanda tangan kontrak sebelumnya.

"Soalnya, nilai bonus signature kontrak lama kan terjadi sudah cukup lama. Untuk itu, nilai bonus signature kontrak baru untuk operator eksis ini harus lebih besar karena cadangan migas terbukti dan produksi sudah ada, serta kenaikan inflasi kan sudah cukup besar dibandingkan dengan awal tanda tangan kontrak," paparnya.

Harapannya, indikator kontrak baru untuk operator eksis itu bisa meningkatkan penerimaan negara.

Hak Pertamina

Sementara itu, kementerian ESDM sudah bertanya informal kepada para operator eksis blok jelang terminasi terkait ketertarikannya memperpanjang kontrak.

"Secara informal, mereka mengaku tertarik," ujar Ego.

Meskipun begitu, PT Pertamina (Persero), sebagai perusahaan minyak nasional, juga tetap ditawarkan dengan menyiapkan proposal untuk blok jelang terminasi tersebut.

Ego mengatakan, blok jelang terminasi itu bisa saja jatuh ke tangan Pertamina kalau proposalnya lebih bagus.

"Bisa dibilang seperti, 8 wilayah kerja ini, mereka juga bisa menggunakan right to match," ujarnya.

Dalam 5 tahun ke depan memang cukup banyak blok terminasi. Seperti, pada 2018, ada 8 blok yang terminasi seperti, blok Tuban, Ogan Komering, North Sumatera Offshore, North Sumatera B, Sanga-sanga, Southeast Sumatra, East Kalimantan, Attaka, dan Tengah.

Dalam catatan Bisnis, pada 2019 ada empat blok yang akan terminasi seperti, Pendopo Raja, Seram, Jambi Merang, dan Bula.

Lalu, pada 2020, ada lima blok yang akan terminasi yakni, Brantas, Jambi B, Kepala Burung, Makassar Strait, dan Salawati. Lalu, pada 2021 ada tiga blok yang terminasi yakni, Rokan, Selat Panjang, dan Bentu Segat.

Pada 2022 terdapat empat blok terminasi yakni, Coastal Plain Pekanbaru, Sengkang, Tarakan, dan tungkal. Pada 2023 ada tiga blok yang akan habis kontrak yakni, Rimau, Koridor, dan Jabung.

Paling menarik, blok yang cukup besar yakni Rokan akan mengalami terminasi pada 2021. Rokan yang dikelola oleh Chevron Pacific Indonesia itu mencatat lifting minyak bumi sebesar 224.300 barel per hari atau berkontribusi sebesar 28% dari total lifting minyak bumi Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
blok migas

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top