Pusat Perbelanjaan di AS Berguguran, Mal Papan Atas Justru Bertahan

Mal di Amerika Serikat berhadapan dengan apa yang disebut 'kiamat ritel', kematian pelan-pelan industri yang tak sanggup beradaptasi dengan kebiasaan berbelanja konsumen yang bergeser. Namun, mal papan atas justru baik-baik saja.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 10 Februari 2018  |  22:41 WIB
Pusat Perbelanjaan di AS Berguguran, Mal Papan Atas Justru Bertahan
Alibaba.com - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Mal di Amerika Serikat berhadapan dengan apa yang disebut 'kiamat ritel', kematian pelan-pelan industri yang tak sanggup beradaptasi dengan kebiasaan berbelanja konsumen yang bergeser.

Peritel pakaian menutup ribuan toko karena rumah tangga mengubah pengeluaran untuk bepergian, makan di luar, dan kegiatan santai lainnya. Lebih penting lagi,  terus melambatnya  pelanggan yang mendatangi mal-mal di pinggiran kota karena kemudahan berbelanja online. Penjualan e-commerce AS diperkirakan mencapai 17% dari keseluruhan ritel pada 2022, naik dari 12,7% pada 2017, dengan pemain utama Amazon.com Inc., menurut Forrester Research.

Lebih buruk lagi bagi mal Amerika, Credit Suisse memperkirakan 20% hingga 25% fasilitas itu akan tutup dalam 5 tahun ke depan. Ini adalah sejenis bencana budaya sehingga para penjelajah pinggiran kota sekarang berjalan melewati mal yang mati dengan kamera di tangan, merekam seolah-olah mal-mal itu adalah reruntuhan purba.

Sementara mal Generasi X itu berada di barisan maut, mal kelas atas ternyata baik-baik saja. Mal seperti Americana Manhasset di pantai utara New York's Long Island, the Forum at Caesars di Las Vegas, dan the Grove di Los Angeles, kerap padat dengan penduduk lokal kaya maupun turis yang boros.

Namun, di antara mal besar yang megah ini, Bal Harbour Shops berdiri paling tinggi. Mal ini selalu berada di puncak daftat pusat perbelanjaan paling produktif di Amerika, menurut firma riset real estate Green Street Advisors. Toko Bal Harbour menolak menyebutkan pendapatan mereka, tetapi  mengakui bahwa kondisi itu menguntungkan.

Meskipun tidak cukup bagi mal untuk sekadar berlokasi di dekat dengan orang-orang kaya, menurut Michael Brown, seorang partner pada perusahaan konsultan ritel A.T. Kearney, itu pasti membantu.

"Mal-mal di sektor berpenduduk padat dan berpenghasilan tinggi terus berkembang," katanya, seperti dikutip Bloomberg.

Bal Harbour berada di antara mereka. Banyak pembeli datang ke mal itu dari tempat yang jauh, tetapi ada yang tinggal sepelemparan batu. Dua menara Hotel St. Regis di seberang jalan terlihat dari lantai dua mal. Ritz-Carlton di ujung jalan, dengan satu kamar tidur suite bertarif lebih dari US$1.000 per malam. Di antara mereka, ada lebih dari setengah lusin kondominium mewah bertingkat berjejer di pantai yang terkenal itu.

Satu kelemahan mal mewah yang berada di antara orang kaya, bagaimanapun, adalah  mereka perlu senantiasa memperbarui penawaran untuk memuaskan pembeli cerdas yang mencari merek yang paling diburu.

Namun, jika mal Anda berada di tempat yang salah, semua toko hebat di dunia tidak akan menyelamatkan Anda--tak peduli apa yang Anda jual. Lihatlah mal tradisional yang terletak hanya 15 menit dari Bal Harbour. Mall di 163rd Street di North Miami Beach adalah cangkang yang sepi. Penurunannya memakan waktu puluhan tahun karena toko utamanya (anchor department store) perlahan-lahan beranjak ke mal kelas atas di dekatnya.

Satu-satunya arah yang harus ditempuh adalah menurunkan pasar karena sebagian besar dibongkar dan digantikan oleh Supercenter Walmart Inc. Yang tersisa sekarang adalah lorong tinggi yang melengkung di mana lima blok etalase atau lebih tetap kosong. Sebagian besar kios juga ditinggalkan. Beberapa pembeli yang berjalan pada hari kerja menuju ke rak diskon di Marshall's atau Ross Dress for Less. Tanda-tanda penuh harapan di dinding menjanjikan: "Toko baru segera hadir!"

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
daya beli

Sumber : bloomberg

Editor : Martin Sihombing
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top