Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Survei: Iklim Bisnis di Indonesia Meningkat, Tapi Risiko Masih Ada

Hasil survei pada CEO di Indonesia dirilis oleh Oxford Business Group (OBG), meyakini bahwa iklim berbisnis di Indonesia dalam kurun waktu 2 tahun terakhir telah mengalami peningkatan yang sangat baik.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 30 Januari 2018  |  15:53 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil survei pada CEO di Indonesia  dirilis oleh Oxford Business Group (OBG), meyakini bahwa iklim berbisnis di Indonesia dalam kurun waktu 2 tahun terakhir telah mengalami peningkatan yang sangat baik. 

Namun masih terdapat kekhawatiran terhadap adanya risiko eksternal.

Dalam survei ini, OBG sebagai perusahaan riset dan konsultasi global memberikan sejumlah pertanyaan kepada puluhan eksekutif kelas atas (CEO, COO, CFO, dan setara) dari berbagai industri di Indonesia. Survei ini dilakukan secara tatap muka dalam rangka mengukur sentimen berbisnis di Indonesia. 

Hasilnya, dua pertiga (64%) responden menyatakan bahwa saat ini berbisnis di Indonesia lebih mudah dibandingkan dengan dua tahun yang lalu.

Kemudian, sebagian besar (76%) responden memberikan penilaian yang positif atau sangat positif terhadap kondisi bisnis di Indonesia tahun ini. Namun, penilaian ini mengalami penurunan dibandingkan dengan survei OBG pertama yang dirilis bulan Mei 2017 lalu, dimana 92% responden menilai positif atau sangat positif.

Sejumlah isu dalam negeri seperti ketidakpastian politik dinilai telah menurunkan sentimen bisnis dalam beberapa bulan terakhir, namun para responden jauh lebih mengkhawatirkan risiko eksternal dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Berdasarkan hasil survei yang diterima Bisnis.com, 38% responden menyatakan bahwa terjadinya pergeseran permintaan dari Cina akan memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian Indonesia secara jangka pendek maupun menengah, sedangkan 23% lainnya mengkhawatirkan kemunculan trade protectionism (kebijakan proteksionisme perdagangan).

Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa 43% responden sangat khawatir dengan kurangnya tenaga kerja terampil di Indonesia. Berdasarkan jawaban para responden, 37% menyatakan bahwa keterampilah leadership merupakan yang paling dicari-cari, sedangkan 20% lainnya menyatakan bahwa keterampilan engineering juga sama pentingnya, jawaban yang muncul diprediksi karena saat ini pemerintah sedang gencar membangun infrastruktur dalam negeri.

Para responden juga menyebutkan bahwa keterampilan informasi teknologi (16%) dan research & development (11%) juga sangat dibutuhkan.

The Business Barometer: Indonesia Survey merupakan hasil kerja sama OBG dengan firma jasa professional BDO Indonesia.

Thano Tanubrata selaku CEO BDO Indonesia mengatakan bahwa pengembangan infrastruktur yang kuat serta inisiatif pemerintah dalam menciptakan ekonomi terbuka telah mampu menjaga sentimen dan iklim berbisnis Indonesia tetap positif. Hal ini juga terlihat dari jawaban responden dalam survei ini .

“Meskipun banyak yang khawatir terhadap risiko eksternal, masih ada optimisme bahwa sentimen bisnis akan tetap positif. Menjelang Pemda 2018, perekonomian lokal juga diprediksi akan meningkat dengan munculnya kesempatan mikro dan makro yang baru,” ujar Tanubrata dalam siaran persnya.

Membahas hasil survey dalam blognya, Patrick Cooke selaku OBG’s Regional Editor for Asia mengatakan bahwa hasil survei OBG juga memperlihatkan bahwa Indonesia berhasil naik dari peringkat ke-140 (2014) menjadi peringkat ke-72 (2017) dalam World Bank’s Ease of Doing Business Index (Index Kemudahan dalam Berbisnis, Bank Dunia).

“Meskipun jauh dari target awal yang disampaikan Jokowi pada pertemuan bulan September yaitu mencapai peringkat ke-40, pencapaian ini merupakan hasil yang cukup signifikan untuk sebuah negara yang pernah memiliki kecenderungan protectionist,” ujar Cooke.

Cooke mengatakan bahwa inisiatif pemerintah mendirikan layanan satu atap di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), melonggarkan kebijakan kepemilikan asing dalam Daftar Negatif Investasi (DNI), dan meningkatkan kapasitas dan kemampuan tenaga listrik dalam negeri telah meningkatkan iklim berbisnis di Indonesia dan berbuah hasil positif.

“Namun, sejumlah responden mengakui bahwa adanya sejumlah tantangan dalam beberapa sektor kunci dapat menghambat Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 7%," tambah Cooke. Cooke juga mengatakan bahwa beberapa hambatan ini misalnya seperti pembatasan partisipasi asing dalam beberapa sektor kunci, trade protectionism, dan adanya kekhawatiran terjadinya perpecahan pada saat Pilpres 2019.

“Meskipun demikian, Indonesia memiliki ekonomi terbesar ke-16 berdasarkan PDB dan jumlah populasi terbesar ke-4 di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan memasuki tahun 2018. Hal ini tentunya akan berhasil dengan kerja sama antara pihak pemerintah dan sektor swasta yang saat ini sama-sama memprioritaskan pembangunan negara,” tutup Cooke.

Evaluasi hasil survey yang ditulis oleh Cooke berjudul ‘Next Frontier’ telah tersedia pada OBG’s Editors’ Blog. Seluruh Regional Managing Editors OBG menggunakan platform tersebut untuk membahas analisis terhadap perkembangan terbaru seluruh sektor di lebih dari 30 negara yang sedang mengalami pertumbuhan pesat yang diteliti oleh OBG.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top