Industri Mebel Patok Target Penjualan US$5 Miliar pada 2019

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia meminta dukungan pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk mewujudkan target penjualan furnitur sebanyak US$5 miliar pada akhir 2019.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 28 November 2017 18:45 WIB
Pengunjung berada di salah satu stand pameran International Furniture Expo (IFEX) 2017 di Jakarta, Senin (13/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia meminta dukungan pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk mewujudkan target penjualan furnitur sebanyak US$5 miliar pada akhir 2019.

Soenoto, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), menyampaikan telah menyiapkan strategi bisnis untuk dapat memacu penjualan produk mebel dan kerajinan. Salah satu fokus utama dari HIMKI adalah merebut pangsa pasar domestik yang kini diisi oleh produk impor.

Potensi pasar industri mebel dan kerajinan dalam negeri terbilang tinggi, bahkan jumlahnya bisa setara dengan nilai ekspor saat ini. Peluang pasar terbuka dengan pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, sektor properti, seperti hunian, apartemen, hotel, dan gedung perkantoran juga masih menunjukkan pertumbuhan.

HIMKI mencatat nilai ekspor industri mebel dan kerajinan Indonesia pada tahun ini diprediksi dapat mencapai US$1,6 miliar—US$1,9 miliar. Adapun pada tahun lalu nilai ekspor industri furnitur hanya mencapai US$1,6 miliar, turun dibandingkan dengan 2015 yang mencapai US$1,9 miliar.

Soenoto menyarankan proyek pengadaan barang seperti kursi, meja, lemari di lingkungan pemerintah pusat dan daerah dapat menggunakan produk dari anggota HIMKI.

Asosiasi juga fokus mengatasi masalah ketersediaan bahan baku untuk industri hilir mebel dan kerajinan. "Kami menolak wacana pembukaan keran ekspor untuk produk seperti rotan dan kayu gelondongan. Bahan baku ini lebih baik dipergunakan untuk industri dalam negeri agar memiliki nilai tambah yang tinggi jika raw material diekspor yang untuk negara lain," kata Soenoto, Selasa  (28/11/2017).

Sebelumnya, Abdul Sobur, Sekretaris Jenderal HIMKI, menyatakan langkah restrukturisasi permesinan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi langkah yang diambil asosiasi untuk mengejar target jangka panjang. Dia mengatakan saat ini kondisi mesin yang digunakan oleh industri furnitur tanah air masih terbilang tertinggal dibandingkan.

Pihaknya telah mengajukan permohonan restrukturisasi permesinan dengan bantuan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Bantuan alokasi dana yang diberikan Kemenperin ini akan dipergunakan untuk memperbarui mesin yang telah lama digunakan oleh pabrikan.

"Pada tahun depan harapannya Kemenperin sudah mengalokasikan dana untuk pembelian mesin bagi kebutuhan industri kami," ujarnya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas SDM, saat ini HIMKI telah dibantu oleh Kemenperin dalam menyiapkan tenaga kerja terampil melalui program vokasi. Fasilitas pendidikan yang diberikan tidak tanggung-tanggung, yakni berupa pembangunan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu yang berada di Kendal, Jawa Tengah.

“Rencana ke depan akan semakin banyak sekolah yang terintegrasi dengan industri mebel dan kerajinan,” imbuhnya

 

Tag : mebel
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top