Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

2018, PLTU Akan Diprioritaskan

Proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan diutamakan dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2018-2027.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 16 Oktober 2017  |  12:59 WIB
2018, PLTU Akan Diprioritaskan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan diutamakan dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2018-2027.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andy Noorsaman Sommeng mengatakan bahwa pihaknya akan mengutamakan proyek-proyek yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa mengalirkan listrik.

Sebagai contoh, dia menyebut pembangunan PLTU lebih lama dibandingkan dengan waktu pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG).

Bila PLTU membutuhkan waktu empat hingga lima tahun, dia menyebut, PLTG hanya membutuhkan waktu sekitar 9 bulan. Hal yang sama juga berlaku pada penambahan kapasitas pembangkit yang bersumber dari energi bersih.

"Mana yang paling minimal, air misalnya. Ini jalanin dulu. Batu bara, ini yang dahulukan dulu," ujarnya usai menghadiri acara Indonesia Gas Society di Hotel Kempinski, Senin (16/10/2017).

Terkait proyek 35.000 mega watt (MW), dia menyebut penyesuaiannya hanya dari aspek waktu pengerjaan. Untuk proyek-proyek yang membutuhkan waktu lebih panjang, tutur Andy, diutamakan sementara yang cepat pengerjaannya tak akan menjadi prioritas.

"Ga ada review. Maksundya gini lho, di dalam project management, mana yang paling cepet, gas misalnya. Ini ditaro paling belakangan karena gampang."

Sebelumnya, Direktur Pengadaan Strategis 1 PLN Nicke Widyawati mengatakan, proyek pembangkit yang ditunda ini yakni untuk yang berbahan bakar gas dan berlokasi di Pulau Jawa. Adapun, proyek pembangkit listrik sengaja ditunda agar tidak ada kapasitas tak terpakai (idle capacity).

Selain itu, proyek yang ditunda merupakan porsi PLN. Pasalnya, proyek PLTG ini merupakan pembangkit penanggung beban puncak yang menjadi tanggung jawab PLN. Tercatat, hingga semester pertama tahun ini, total kapasitas proyek pembangkit listrik yang telah merampungkan pendanaan (financial close) sekitar 14.000 MW.

“Nanti kami sesuaikan [jatah PLN] menjadi sekitar 5 ribu MW. Ada sekitar lima pembangkit [yang ditunda], total sekitar 4 ribu MW,” tutur Nicke.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pltu
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top