Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jadi Operator KA di Myanmar, KAI Tunggu Persetujuan Parlemen Setempat

PT Kereta Api Indonesia menunggu persetujuan kabinet pemerintahan Myanmar untuk menandatangani nota kesepahaman dalam rangka menjadi operator kereta api di Myanmar.
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 21 Oktober 2016  |  04:42 WIB
Pekerja PT KAI menggunakan alat berat melakukan pembangunan proyek jalur ganda kereta api di Bandar Khalipah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara - Antara
Pekerja PT KAI menggunakan alat berat melakukan pembangunan proyek jalur ganda kereta api di Bandar Khalipah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia menunggu persetujuan kabinet pemerintahan Myanmar untuk menandatangani nota kesepahaman dalam rangka menjadi operator kereta api di Myanmar.

Direktur Logistik dan Pengembangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Budi Noviantoro mengatakan, saat ini hal tersebut masih dalam tahap proses penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU). “Pihak Myanmar masih tunggu persetujuan kabinetnya,” kata Budi, Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Dia menambahkan kedua belah pihak baik KAI maupun Myanmar sudah sepakat dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam nota kesepahaman yang belum ditandatangani tersebut.

Menanggapi tawaran tersebut, Akademisi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno mengatakan menjadi operator kereta api di Myanmar merupakan hal positif bagi perusahaan meskipun tidak akan mendatangkan keuntungan besar.

Menurutnya, menjadi operator kereta api di Myanmar dapat meningkatkan kepercayaan negara tersebut dan negara-negara di Asean terhadap kereta api Indonesia. Kepercayaan itu, paparnya, lebih mahal dari apa pun.

Dengan mendapatkan kepercayaan tersebut, dia menjelaskan negara-negara di Asean dapat memesan kereta api dari Indonesia melalui PT Industri Kereta Api yang sebelumnya sudah mendapatkan pesanan seperti dari Bangladesh.

Tidak hanya itu, dia mengungkapkan, perusahaan juga dapat memanfaatkan hal tersebut untuk memberikan kesempatan bagi karyawannya yang masih muda menghadapi tantangan-tantangan yang ada di sana.

Perusahaan, paparnya, secara tidak langsung dapat mendidik sumber daya manusianya dengan mengirimkannya ke Myanmar. “Yang dikirimkan tenaga profesional,” tambahnya.

Dia menuturkan karakteristik kereta api di Myanmar saat ini sama dengan kereta api Indonesia sebelum berubah. Menurutnya, stasiun kereta api di Myanmar masih terbuka. Tidak hanya itu, kecepatan kereta yang beroperasi juga masih sekitar 20-30 kilometer per jam.

Sebelum menjadi operator kereta api di Myanmar, dia menjelaskan, perusahaan perlu mempersiapkan SDM dan mempelajari masalah sosial & budaya di sana. Sebelumnya, permintaan Myanmar agar PT KAI menjadi operator di negaranya terjadi dalam ASEAN Railways CEO’s Conference (ARCEO) ke-38.

Dalam kegiatan tersebut, terdapat tujuh perusahaan operator kereta api di Asia Tanggara yang ikut serta. Ketujuh perusahaan operator kereta api tersebut antara lain, Kereta Api Tanah Melayu Berhad (KTMB) Malaysia, State Railway of Thailand, dan Vietnam Railway.

Kemudian, Royal Railways of Cambodia, Lao Railway Authority Laos, Myanmar Railways, dan PT KAI. Dari Indonesia, selain PT KAI, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), PT KA Pariwisata, dan PT Railink juga turut berpartisipasi dalam konferensi tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pt kai
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top