Ini Kata Dirut Posindo Agar Generasi Milenia Tetap Menulis Surat

Dalam upaya melestarikan budaya berkirim surat, PT Pos Indonesia membuka peluang bagi siswa tingkat SD dan SMP melakukan study tour di sejumlah kantor pos
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 02 Mei 2016 16:58 WIB
Bisnis.com, JAKARTA Dalam upaya melestarikan budaya berkirim surat, PT Pos Indonesia tetap membuka peluang bagi siswa-siswi dari sekolah tingkat dasar hingga menengah atas untuk melakukan study tour di sejumlah kantor pos setiap daerah sekaligus mengadakan riset relevansi Pos bagi anak muda.
 
Direktur Utama PT Pos Indonesia (Posindo) Gilarsi Wahyu Setijono menyatakan generasi Y memang sudah tidak akrab dengan komunikasi melalui surat. Meskipun demikian, Gilarsi menilai anak muda Indonesia masa kini tetap perlu memahami bagaimana cara berkorespondensi melalui surat, dan bagaimana anak-anak muda mengapresiasi perangko dan filateli.
 
Kami sudah membuat layanan bagi siswa-siswi dari berbagai sekolah boleh melakukan studi tour ke kantor pos. belajar berkorespondensi. Kami juga memberikan stimulus berupa lomba menulis surat, sekalipun mereka lebih akrab dengan e-mail dan sejenisnya. Tetapi bersurat itu bagian dari budaya, terangnya kepada Bisnis.com, Senin, (2/5/2016).
 
Saat ini Posindo sendiri sudah mengupayakan pelestarian perangko dan filateli, salah satu caranya dengan membula galeri perangko atau filateli di kantor pos besar di seluruh Indonesia.
 
Kita juga sedang dalam proses melakukan research melalui lomba menulis sebuah cerita atau deskripsi cerita pendek yang menggali apa relevansi Pos bagi generasi milenial ini, kira-kira Pos ini harus seperti apa agar tetap relevan bagi mereka, jelasnya.
 
Rencananya lomba tersebut juga mewajibkan peserta menulis pendapatnya melalui surat. Sekalipun nampak sangat tua, Gilarsi berharap lomba tersebut nantinya bisa membantu Posindo merumuskan strategi yang lebih baik untuk melayani generasi muda.
 
Di Jepang hanya mengalami penurunan bisnis persuratan 3%, sementara di negara lain di seluruh dunia mencapai 10% per tahun. Jepang berhasil mempertahankan hal ini karena budaya menulisnya sangat tinggi, menulis kartu pos juga tinggi. Sementara generasi saat ini cenderung instan, tutur Gilarsi.
 
Alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung ini menyatakan, sebenarnya berkirim surat itu jauh lebih lama kenangannya. Pasalnya saja dengan kartu pos memori-nya lebih lama tinggal, bisa dibaca berkali-kali dan disimpan.
 
Oleh sebab itu saya membayangkan cucu-cucu saya masih memberikan saya kartu pos nantinya dengan ucapan selamat ulang tahun. Itu bisa saya simpan, bandingkan dengan ditulis di media sosial, itu bisa hilang dalam satuan second. Itu akan terisi dengan yang lain, tidak stay dalam memori kita, jelasnya.
 
Gilarsi membandingkan, sebenarnya berkirim surat atau pesan melalui tidak lagi mengeratkan ikatan memori secara otak dengan memori emosi seseorang. Dengan demikian, Gilarsi mengakui Posindo masih hadir untuk memfasilitasi hal itu.
 
Saya masih ingin Posindo hadir untuk memfasilitasi itu, memberikan kesempatan agar memori itu stay longer, bisa disentuh, disimpan, dilihat, dan dikenang, lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pt pos indonesia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top