Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penegakan Hukum Wajib Ditingkatkan Atas Produsen Pangan

Penegakan hukum kepada produsen pangan pengguna bahan berbahaya wajib ditingkatkan guna memberikan efek dan menekan potensi peredaran produk pangan nirkualitas.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 16 November 2015  |  20:35 WIB
Penegakan Hukum Wajib Ditingkatkan Atas Produsen Pangan

Bisnis.com, JAKARTA—Penegakan hukum kepada produsen pangan pengguna bahan berbahaya wajib ditingkatkan guna memberikan efek dan menekan potensi peredaran produk pangan nirkualitas.

Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya Badan POM Mustowa mengatakan hukuman bagi produsen nakal wajib ditingkatkan, sehingga menghindari potensi melebarnya penggunaan bahan berbahaya, seperti formalin.

Sebut saja, formalin (bahan berbahaya yang berguna sebagai desinfektan) acap kali disalahgunakan sebagai bahan pengawet pangan. Selain itu, boraks (bahan berbahaya yang berguna sebagai bahan baku lem kayu) disalahgunakan untuk pengenyal pangan dan Rhodamin B dan Kuning Metanil (bahan berbahaya yang berguna sebagai pewarna tekstil) disalahgunakan sebagai pewarna pangan.

“Beban hukuman harus ditingkatkan, karena sangat berbahaya peredarannya. Tidak hanya itu, aturan importasinya juga diperketat,” tuturnya, Senin (16/11).

Dari temuan Badan POM, diakui trennya menurun dari tahun ke tahun, seperti pada 2011 dengan persentase 4,05% menjadi 2,03% pada 2014. Dia mengatakan terkait dengan deregulasi importasi produk, pihaknya mengharapkan Kementerian Perdagangan tetap melakukan pengetatan untuk bahan berbahaya tersebut.

“Karena potensinya merugikan jika disalahgunakan, akses pasar juga tidak boleh mudah bagi produsen pangan,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pangan bahan berbahaya beracun
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top