Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Desak Selandia Baru Investasi Pabrik Susu

Kementerian Perindustrian mendesak pemerintah Selandia Baru membawa perusahaan makanan dan minuman berbahan dasar susu mendirikan pabrik di Indonesia untuk mengurangi nilai impor produk tersebut yang mencapai Rp6 triliun per tahun.
Muhammad Abdi Amna
Muhammad Abdi Amna - Bisnis.com 22 Oktober 2015  |  20:05 WIB
Indonesia Desak Selandia Baru Investasi Pabrik Susu
Peternak menuangkan susu sapi hasil perahan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Perindustrian mendesak pemerintah Selandia Baru membawa perusahaan makanan dan minuman berbahan dasar susu mendirikan pabrik di Indonesia untuk mengurangi nilai impor produk tersebut yang mencapai Rp6 triliun per tahun.

Saleh Husin, Menteri Perindustrian, mengatakan nilai impor produk makanan-minuman, termasuk dairy dari Selandia Baru mencapai US$456 juta, sementara ekspor Indonesia ke negara tersebut di dominasi pakan ternak, besi dan baja, karet olahan serta pupuk.

“Nilai impor dari Selandia Baru ini menandakan Indonesia pasar penting. Maka kami minta mereka untuk berinvestasi langsung di Indonesia, jangan cuma menjadikan kita pasar,” ujarnya usai menerima Menteri Perdagangan dan Perubahan Iklim Selandia Baru, Tim Groser, Kamis (22/10/2015).

Menurutnya, saat ini merupakan momentum yang tepat bagi investor global menanam modal di Indonesia, seiring dengan diluncurkannya sejumlah paket kebijakan ekonomi untuk meningkatkan realisasi investasi serta mendorong aktivitas industri.

Selain itu, momentum pemberlakuan agenda Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun depan menjadi peluang bagi Selandia Baru untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi susu untuk pasar domestik dan Asean.

Menurutnya, Selandia Baru akan mendapatkan keuntungan ganda jika berinvestasi di Indonesia. Karena, dengan sumber daya alam yang dimiliki, Indonesia dapat mengatasi kendala keterbatasan pasokan pakan ternak.

“Saat musim dingin, ketersediaan rumput di sana terbatas, padahal itu pakan utama sapi. Masalah ini dapat diatasi dengan memberikan pakan lain yakni bungkil kelapa sawit yang merupakan produk sampingan crude palm oil (CPO),” tuturnya.

Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, lanjutnya, Indonesia menghasilkan bungkil kelapa sawit dalam jumlah besar dan dapat dimanfaatkan oleh peternak sapi Selandia Baru sebagai tambahan pakan ternak.

Berdasarkan data Kemenperin, realisasi investasi Selandia Baru di Indonesia sepanjang semester I tahun ini telah mencapai US$14 juta yang tersebar dalam enam proyek. Adapun sepanjang tahun lalu investasi negara tersebut mencapai US$17,5 juta dari enam proyek.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Selandia Baru Tim Groser mengajak Indonesia bergabung dalam kerjasama Trans-Pacific Partnership (TPP) yang melibatkan 12 negara dengan pemimpin perundingan Amerika Serikat.

Saat ini empat negara di Asean telah bergabung dalam TPP, yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Adapun anggota lain adalah Australia, Kanada, Cile, Jepang, Meksiko, Selandia Baru, Peru, dan AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

selandia baru industri susu
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top