Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Semester I/2015: Produksi Rokok Turun 1,27%

Industri rokok mengalami perlambatan 1,27% pada semester pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Pelaku industri menilai penurunan hingga akhir tahun bisa mencapai 5%.
Shahnaz Yusuf
Shahnaz Yusuf - Bisnis.com 10 Agustus 2015  |  20:38 WIB
Semester I/2015: Produksi Rokok Turun 1,27%
Buruh mengerjakan proses pelintingan rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (22/5). - Antara/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA – Industri rokok mengalami perlambatan 1,27% pada semester pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Pelaku industri menilai penurunan hingga akhir tahun bisa mencapai 5%.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Hasan Aoni Aziz mengatakan tahun ini lebih berat dibanding 2014 dengan adanya kenaikan tarif yang cukup besar serta kondisi perekonomian yang berdampak pada penurunan daya beli.

“Tahun lalu produksi turun 2% dibanding 2013. Ini, semester pertama saja turun hampir 2%. Semester ini produksi itu sekitar 173 miliar batang,” ujarnya pada Bisnis.com, Senin (10/8/2015).

Dia mengatakan bahwa tahun ini Bea Cukai menargetkan kapasitas produksi berdasarkan tarif yang ada sebesar 360 miliar batang. Sementara, hasil produksi selama paruh tahun pertama belum mencapai 50%.

“Masih 48,15%. Angka ini didapat dari data pemesanan cukai atau CK-1,” jelasnya.

Menurut Hasan, perolehan pada semester pertama ini terdongkrak oleh pemesanan cukai pada kuartal dua. Pasalnya, sepanjang kuartal pertama 2015, produksi rokok turun hingga 10,49% dibanding tahun sebelumnya, atau dari 115 miliar batang menjadi 103 miliar batang.

Secara keseluruhan, Hasan menilai bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh kenaikan tarif untuk produk rokok, yang rata-rata tiap layer mencapai 8,72%. “Tapi rata-rata itu juga tidak bisa menggambarkan harga riil di tiap market share [untuk jenis produk],” katanya.

Dia menjelaskan dari ketiga produk rokok yaitu sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek tangan (SKT), kenaikan cukup besar terjadi pada SKM yang pangsa pasarnya paling besar.

“Tarif terbesar di SKM, untuk kelas 2 dan kelas 1. Memang kenaikan harga rokok berdasarkan market share [jenis produk], cukup besar tahun 2015 dibanding 2014,” jelasnya.

Selain itu, kondisi perekonomian yang tak bergairah berdampak pada penurunan daya beli masyarakat terhadap konsumsi rokok. Menurutnya, selama ini industri rokok bisa menjadi tolok ukur pertumbuhan ekonomi dalam negeri. “Biasa rokok paling terakhir kena. Kalau konsumsi rokok terkena dampak, itu artinya ekonomi mengalami penurunan.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top