Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

BATAN: Tiga Investor Minati Proyek PLTN Indonesia

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tengah melakukan diskusi dengan calon investor karena pihaknya kini tengah melakukan proses tender untuk pembangunan reaktor daya non komersial yang rencananya dibangun di Serpong, Banten.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 03 Oktober 2014  |  06:10 WIB
BATAN: Tiga Investor Minati Proyek PLTN Indonesia
Suasana pemukiman warga tampak gelap akibat pemadaman listrik di Jakarta Pusat, Senin (12/5). Pemadaman listrik di sebagian besar wilayah Jakarta akibat adanya gangguan pembangkit Muara Karang. - antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tengah melakukan diskusi dengan calon investor karena pihaknya kini tengah melakukan proses tender untuk pembangunan reaktor daya non komersial yang rencananya dibangun di Serpong, Banten.

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnusubroto mengatakan pihaknya telah mengantongi ketiga calon investor dan masih membahas soal teknologi reaktor mana yang akan digunakan untuk membangun reaktor daya non komersial berkapasitas 30 megawatt tersebut.

“Kami tengah berdiskusi dengan Jepang, China dan Rusia untuk proses bidding [lelang],” katanya seusai mengikuti diskusi bertema Menunggu Keberanian Pemerintah Mengatasi Krisis Energi di Jakarta, Kamis (2/10/2014).

Menurutnya, pihaknya kemungkinan akan memilih untuk menggunakan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir generasi IV. Dia mengungkapkan reaktor itu merupakan teknologi yang paling mutakhir saat ini.

Selain itu, bila menggunakan reaktor generasi IV maka kemungkinan bisa juga memanfaatkan thorium yang jumlahnya sangat besar di Indonesia sebagai bahan bakar. Kendati, tetap bisa menggunakan bahan bakar uranium.

Sayang, dia enggan menyebutkan berapa nilai proyek reaktor daya eksperimental tersebut. Hanya saja, dia mengungkapkan anggaran yang disiapkan oleh pemerintah juga akan mempengaruhi proses bidding tersebut.

“Kalau dana dari pemerintah banyak ya otomatis daya listrik yang akan dihasilkan reaktor itu jauh lebih besar,” katanya.

Reaktor itu kini telah melampaui fase 1 dari total 3 fase infrastruktur yang diharapkan selesai pada 2019. Djarot mengatakan dari hasil evaluasi, Indonesia dianggap sudah berhasil menyelesaikan tahap 1 dan memungkinkan untuk melanjutkan ke tahap 2 yakni persiapan dan pelaksanaan konstruksi.

Menurutnya, kesiapan infrastruktur RDNK tahap 1 telah dimulai pada 2009. Nantinya, ketika tahap 2 telah dilakukan maka pihaknya bisa melanjutkan ke tahap 3 yakni pembangunan dan pengoperasian RDNK.

“Kita bisa segera melakukan pembangunan konstruksi. Persiapan mungkin membutuhkan waktu 1 tahun dan pembangunan konstruksi fisik membutuhkan waktu 3 tahun. Jadi, kira-kira 2019 kita sudah bisa punya," katanya.

Bisnis.com mencatat RDNK itu rencananya akan menghasilkan energi panas hingga 30 megawatt thermal dan energi listrik sebesar 10 megawatt elektrik yang berlokasi di sekitar Reaktor riset di Serpong, selama ini digunakan untuk riset kedokteran dan pertanian melalui reaktor serba guna (RSG) dengan kapasitas 30 MW.

“Dengan pembangunan ini, kita ingin menunjukkan rektor nuklir ini menghasilkan listrik dan reaktor itu aman,” ujarnya.

Pakar energi dari Universitas Indonesia Iwa Garniwa mengatakan kebutuhan listrik Indonesia semakin lama semakin meningkat sehingga pemerintah perlu menambah kapasitas pembangkit listrik.

Selain itu perlu dikembangkan infrastruktur listrik secara masif oleh pemerintahan mendatang untuk menambah rasio elektrifikasi. “Untuk menutup gap antara supply dan demand listrik, maka saya kira pengembangan PLTN perlu dilakukan,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pltn
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top