Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Susu Domestik Bergairah, Peternak Diminta Tidak Jual Sapinya

Gabungan Koperasi Susu Indonesia Jawa Timur (GKSI Jatim) meminta peternak tidak tergiur menjual sapi miliknya, mengingat harga susu di tingkat industri pengolahan susu (IPS) yang sedang bagus, bahkan lebih menguntungkan dibandingkan dengan susu impor.
Mohammad Sofi`i
Mohammad Sofi`i - Bisnis.com 01 Oktober 2014  |  01:50 WIB

Bisnis.com, MALANG - Gabungan Koperasi Susu Indonesia Jawa Timur (GKSI Jatim) meminta peternak tidak tergiur menjual sapi miliknya, mengingat harga susu di tingkat industri pengolahan susu (IPS) yang sedang bagus, bahkan lebih menguntungkan dibandingkan dengan susu impor. 

Sulistyanto, Ketua Bidang Usaha GKSI Jatim, mengatakan harga susu saat ini berkisar Rp5.200-Rp5.400 per liter. Kondisi tersebut harus bisa dimanfaatkan peternak untuk meningkatkan produksinya dengan tidak menjual sapi miliknya untuk kebutuhan hewan kurban, khususnya yang betina.

“Tahun lalu banyak sapi yang dijual untuk kebutuhan kurban. Hal itu jangan sampai terjadi lagi karena harga susu sedang bagus,” kata Sulistyanto, Selasa (30/9/2014).

Produksi susu di Jatim masih relatif rendah. Dengan jumlah populasi sapi anggota KUD di Jatim sebanyak 172.000 ekor produksi saat ini masih berkisar antara 800-900 ton per hari, masih di bawah kebutuhan IPS sebanyak 1.600 ton per hari.

Dengan demikian, jika nanti peternak menjual sapi miliknya untuk kebutuhan kurban, maka dipastikan akan mengancam kelangsungan produksi susu di Jatim. Kalaupun menjual, GKSI menghimbau agar menjual sapi jantan untuk selanjutnya dibelikan anak sapi betina.

“Sehingga kelangsungan produksi susu tetap terjaga dengan baik. Sehingga upaya peningkatan produksi bisa terealisasi,” jelas dia.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Malang menjelang Idul Adha melakukan pemeriksaan anti mortem terhadap hewan kurban. Pemeriksaan dilakukan disejumlah titik yang menjual hewan kurban.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Malang, Sapto P. Santoso, mengatakan saat melakukan pemeriksaan di jalan Sulfat misalnya petugas menemukan adanya hewan kurban yang tidak layak potong.

“Dari 350 ekor kambing dan 100 ekor sapi, 10% kambing diantaranya tidak layak potong karena masih berusia muda yakni 1,5 tahun. Idealnya usia kambing yang layak potong minimal 2 tahun yang ditandai dengan tumbuhnya gigi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

susu
Editor : Nurbaiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top