SERTIFIKAT KAKAO: Belum Jelas Penerapannya

Kalangan pengusaha berharap pemerintah dapat segera memberikan kejelasan terhadap penerapan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi komoditas kakao.
Adi Ginanjar Maulana & Dimas Waradhitya | 02 September 2014 15:21 WIB
Pengolahan bijih kopi - Bisnis

Bisnis. com, BANDUNG—Kalangan pengusaha berharap pemerintah dapat segera memberikan kejelasan terhadap penerapan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi komoditas kakao.

Mereka menilai dalam menerapkan beleid Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 67/2014 tentang Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao, pemerintah harus turun tangan menyiapkan sarana dan prasarana penunjang.

Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Kakao dan Cokelat Indonesia (APIKCI) Sony Satari mengatakan jika pemerintah jelas dan konsisten menerapkan sertifikasi SNI, ekspor produk kakao akan ikut terdongkrak ke berbagai negara.

"Pemerintah perlu melakukan komunikasi berkelanjutan kepada seluruh jajaran stakeholder yang di dalamnya terdapat juga pengusaha dan petani,” kata Sony kepada Bisnis, Selasa (2/9/2014).

Selain sosialisasi pemerintah pun harus memberikan bantuan materil seperti pengadaan laboratorium uji serta pelatihan untuk meningkatkan kapasitas petani kakao.

Sony menilai urgensi sertifikasi SNI kakao memang harus didahulukan agar biji kakao Indonesia memiliki kualitas dan harga yang bersaing dengan biji kakao dari negara-negara lain yang mulai menginvasi pasar tanah air.

Dengan sertifikasi, nilai ekspor produk hilirasi kakao pun akan meningkat karena telah memenuhi standar yang meliputi definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara pengemasan, dan rekomendasi.

"Semua yang bermain di sektor hulu dan hilir akan sama-sama diuntingkan bila penerapan sertifikasi SNI dilakukan secara benar," ujar Sony.

 Namun,  dia mengungkapkan terdapat masalah lain di hilirasi kakao yang tidak bisa dianggap enteng, yakni mayoritas perusahaan industri pengolahan biji kakao dikuasai oleh asing.

Bahkan. menurutnya, penguasaan asing mencapai 75% dari seluruh kapasitas produksi olahan kakao nasional.

 "Selain keterbatasan dana, para perusahaan lokal juga lebih sulit mencari pasar. Hal ini disebabkan karena merek dari perusahaan industri pengolahan biji kakao.

Selain itu, pengusaha di sektor hilir produk kakao juga mulai resah akibat terhambatnya pasokan bahan baku dari pengepul.

 

Tag : kakao
Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top