Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Gelontorkan Rp20 Miliar untuk Replanting Karet

Dalam menggenjot produksi karet, pemerintah melakukan upaya replanting terhadap tanaman karet usaha rakyat. Uang sebanyak Rp20 miliar dari APBN sudah digelontorkan pemerintah menggenjot karet hasil replanting.
Yanuarius Viodeogo
Yanuarius Viodeogo - Bisnis.com 09 Juni 2014  |  17:46 WIB
Pemerintah Gelontorkan Rp20 Miliar untuk Replanting Karet
Perkebunan karet. Pemerintah Gelontorkan Rp20 Miliar untuk Replanting - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Dalam menggenjot produksi karet, pemerintah melakukan upaya replanting terhadap tanaman karet usaha rakyat. Uang sebanyak Rp20 miliar dari APBN sudah digelontorkan pemerintah menggenjot karet hasil replanting.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengatakan nominal APBN tersebut masih tergolong kecil untuk memberikan subsidi replanting tanaman karet rakyat seluas 6.000 hektare.

"Kami telah mengusulkan itu (replanting) sebagai Gerakan Nasional Karet tapi terkendala dengan APBN (modal) yang terbatas," kata Gamal Nasir kepada bisnis.com, di Jakarta, Senin (09/06/2014).

Replanting adalah peremajaan tanaman karet yang telah berusia 25-30 tahun. Berdasarkan data Dirjen Perkebunan biaya replanting dari APBN sebanyak Rp20 miliar telah berjalan sejak 4 tahun terakhir.

Gamal mengemukakan jika ditekan dengan serius maka target produksi hasil replanting mampu memenuhi nilai produksi sebanyak 3 juta ton setiap tahunnya. "Tetapi tergantung dari komitmen pemerintah yang baru nanti."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkebunan karet
Editor : Ismail Fahmi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top