Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banyak Dicaplok, PT KAI Cari Dukungan Pengembalian Aset

PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah mencari dukungan terhadap upaya pengembalian aset tanah yang telah banyak dicaplok pihak lain.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 23 April 2014  |  23:50 WIB
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignatius Jonan (kiri) menyapa penumpang kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta, beberapa waktu lalu. - Bisnis/Alby Albahi
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignatius Jonan (kiri) menyapa penumpang kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta, beberapa waktu lalu. - Bisnis/Alby Albahi

Bisnis.com, JAKARTA- PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah mencari dukungan terhadap upaya pengembalian aset tanah yang telah banyak dicaplok pihak lain.

Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan mengatakan meski pucuk pimpinan pemerintahan saat ini telah memerhatikan sektor perkeretaapian, namun masih lemah dalam membantu perusahaan BUMN tersebut mengembalikan aset warisan.

"Aset tanah KAI merupakan aset negara," ujarnya, Rabu (23/4/2014).

PT KAI mengklaim sebagai pemilik sah dari 18.000 hektar tanah yang tersebar di Sumatra dan Jawa. Akan tetapi dengan bermodal payung hukum yang menyangkut aset perseroan sejak era kolonial Belanda, PT KAI masih kesulitan mendapatkan sertifikat aset tanah tersebut.

Karena itu, PT KAI pun mengharapkan pengawalan para kelompok politik, kontestan Pemilu 2014. Terlebih lagi, saat ini beberapa anggota DPR RI dari Komisi XI dan Komisi III menyepakati dukungan terhadap upaya tersebut.

Hal inipun mendapat pembenaran dari Sebastian Salah, pegiat LSM Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi). Dia mengatakan, negara banyak disusahkan akibat kehilangan aset tanah. "Tidak hanya aset KAI, namun berbagai aset lainnya baik yang milik BUMN maupun pemerintah," ujarnya.

Menurutnya, biaya politik tinggi, dari tingkat daerah hingga pusat menyebabkan para pemenang kekuasaan membandrol berbagai aset. "Hal itulah yang menimpa KAI di kasus tanah Gang Buntu, Medan, Sumatra Utara."


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kereta api
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top