Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Kebakaran Riau, SBY: Jangan Ada Dusta di Antara Kita

Pada hari kedua kunjungannya di Provinsi Riau, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menemui warga dari sejumlah daerah yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan, di halaman SDN 10 Minas, Kabupaten Siak, Minggu (16/3/14) siang.
Muhammad Khamdi
Muhammad Khamdi - Bisnis.com 16 Maret 2014  |  18:22 WIB
Soal Kebakaran Riau, SBY: Jangan Ada Dusta di Antara Kita
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pada hari kedua kunjungannya di Provinsi Riau, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menemui warga dari sejumlah daerah yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan, di halaman SDN 10 Minas, Kabupaten Siak, Minggu (16/3/14) siang. 

Pertemuan dimaksudkan untuk menggali masukan dari masyarakat terkait kerangnya terjadi kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Dalam kesempatan itu, Presiden SBY meminta masyarakat dan aparatur pemerintah yang paling bawah untuk berkata jujur terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi di Riau. Presiden meminta masyarakat melaporkan apa saja yang sebenarnya yang terjadi, sehingga kebakaran lahan di Riau bisa separah ini.

Ketika seorang warga yang mengaku berasal dari dari Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, mengatakan bahwa kebakaran lahan lebih dikarenakan faktor alam, Presiden SBY tampak tidak puas dengan penjelasan itu.

Presiden mengingatkan, lahan gambut tidak hanya ada di Riau, tetapi juga ada di Jambi, Sumatera Selatan, Kalimanan dan sejumlah daerah lain di Indonesia, tetapi mengapa kebakaran lahan di Riau bisa berbeda dengan daerah lain. Menurut Presiden, kondisi kebakaran hutan dan lahan di Riau selalu parah jika dibandingkan dengan di daerah lain.

"Jangan ada dusta di antara kita, kalau di sini tidak mau sampaikan apa yang sebenarnya terjadi, maka saya akan cari tempat yang lain," kata Presiden menanggapi keterangan warga dari Kabupaten Kampar dalam laman setkab.go.id, Minggu (16/3/2014).

Pernyataan itu juga diungkapkan Presiden SBY melalui akun twitter pribadinya @SBYudhoyono yang baru diunggahnya beberapa saat lalu.

Mendengar pernyataan Kepala Negara itu, seorang warga asal Siak  Hulu, Kabupatan Kampar  mengakui, memang kebakaran lahan yang terjadi di Riau tidak sekedar karena faktor alam, tetapi ada pihak-pihak yang sengaja membakarnya untuk maksud-maksud tertentu. Bahkan kebakaran yang terjadi hanya berjarak 20 kilometer dari Pekanbaru, terkesan dibiarkan tanpa ada upaya pemadaman yang serius.

Menanggapi hal itu, Presiden SBY mengatakan ironis ada kebakaran lahan yang hanya berjarak 20 kilometer dari Pekanbaru, tidak bisa dipadamkan.

"Saya merasa malu. Ada kebakaran lahan yang jaraknya hanya 20 kilometer dari ibukota provinsi tapi tak terpadamkan," ujar Presiden SBY dalam pertemuan yang dihadiri oleh Mekokesra Agung Laksono, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Mendagri Gamawan Fauzi, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Gubernur Riau Annas Maamun, dan Bupati Siak Syamsuar.

Menurut Presiden SBY, sebenarnya dirinya sudah menerima laporan adanya unsur kesengajaan dari kebakaran hutan dan lahan di Riau. Ada pihak-pihak yang memegang izin pengelolaan kawasan hutan, yang menyuruh masyarakat membakar lahan untuk membuka area baru. "Ini sangat merugikan dan masyarakat yang dirugikan," ujar Presiden.

Sekitar 1 jam, Presiden SBY menemui warga yang berkumpul di halaman SDN 10 Minas, Kabupaten Siak. Selanjutnya, Presiden SBY mohon pamit karena harus kembali ke Pekanbaru untuk memimpin rapat bersama kepala daerah se-Provinsi Riau untuk membahas kelanjutan penanganan karhutla di Riau.

"Saya akan memimpin rapat lanjutan penanganan kebakaran ini bersama Bupati dan Walikota di kediaman Gubernur," ujar SBY. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kebakaran hutan riau
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top