Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Defisit Neraca Perdagangan Hortikultura Capai US$500 juta

Defisit perdagangan hortikultura Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai US$500 juta. Jeruk dan bawang merah menjadi komoditas utama penyebab besarnya defisit perdagangan tersebut.
M. Taufiqur Rahman
M. Taufiqur Rahman - Bisnis.com 25 November 2013  |  20:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Defisit perdagangan hortikultura Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai US$500 juta. Jeruk dan bawang merah menjadi komoditas utama penyebab besarnya defisit tersebut.

Dirjen Hortikulturan Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim mengatakan kebutuhan buah Indonesia terus meningkat.  Pada tahun ini nilai impor hortikultura secara keseluruhan diperkirakan mencapai US$800 juta, sedangkan ekspornya hanya US$300 juta.

“Neraca perdagangan produk hortikultura selama ini memang defisit. Selain karena meingkatnya permintaan akibat membaiknya ekonomi, produksi lokal juga belum meningkat secara signifikan,” ungkapnya, Senin (25/11).

Hasanuddin menyebutkan penyebab defisit dagang tersebut berasal dari impor jeruk Mandarin dan bawang putih dari China. Impor jeruk tahun ini diperkirakan menembus angka Rp.4 triliun. Sementara nilai ekspor hortikulturan diperkirakan tidak akan mengalami perubahan yang signifikan dari tahun lalu, atau berkisar US$250 juta – US$300 juta.

Ekspor Hortikultura Indonesia masih mengandalkan empat komoditas utama, yaitu buah manggis, salak, mangga, dan nanas. Saat ini, Indonesia menjadi ekportir nanas kaleng terbesar di dunia, meskipun demikian nilainya masih kecil sekitar US$200 juta.

Hasanuddin mengatakan besarnya impor jeruk tersebut dikarenakan pertambahan penduduk yang tidak diimbangi peningkatan produksi dalam negeri. Selain itu, tata niaga produk tersebut sudah modern dan tertata dengan baik.

“Pengusaha atau importir mendapat berbagai kemudahan dari tata niaga yang ada, misalnya penundaan pembayaran atau bantuan promosi dari produsen,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menjadikan jeruk sebagai salah satu komoditas yang harus mendapat prioritas. Dengan ini, diharapkan ketergantungan terhadap jeruk impor akan berkurang.

“Anggaran pemerintah untuk hortikultura difokuskan pada empat komoditas strategis, yaitu jeruk, cabai merah, cabai rawit dan bawang merah,” katanya.

Sementara itu Ketua Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB Sobir menyebutkan peningkatan pendapatan akan menurunkan konsumsi beras per kapita, namun sebaliknya konsumsi sayur dab buah akan meningkat hingga 3 kali lipatnya.

“Substitusi pangan akan terjadi seiring meningkatnya pendapatan masyarakat, konsumsi beras cenderung turun, sementara konsumsi sayur dan buah-buahan justru semakin meningkat,” jelasnya.

Komoditas cabai merah merupakan salah satu komponen pembentuk inflasi volatile food (permintaan cenderung inelastis) meskipun bobotnya relatif kecil (0,41%),  tetapi pengaruhnya besar terhadap pembentukan inflasi karena fluktuasi harganya yang besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementan impor hortikultura
Editor : Bambang Supriyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top