Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PLN SANGGUPI Pasok 23 MW ke PT Timah

JAKARTA—PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyanggupi permintaan PT Timah (Persero) Tbk memasok listrik sebesar 23 megawatt (MW) untuk kebutuhan pabrik Tin Chemical yang dibangun perseroan.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 31 Januari 2013  |  21:05 WIB

JAKARTA—PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyanggupi permintaan PT Timah (Persero) Tbk memasok listrik sebesar 23 megawatt (MW) untuk kebutuhan pabrik Tin Chemical yang dibangun perseroan.

Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan saat ini perseroan tengah merampungkan kesepakatan pasokan listrik untuk Timah. Nantinya, listrik tersebut akan dialirkan melalui kabel Sumatera-Bangka yang akan selesai dalam waktu dekat.

“Timah memang meminta listrik ke PLN, kami sedang menyusun kesepakatan pasokan listriknya. Nanti akan dialirkan lewat kabel Sumatera-Bangka, kan kami memasang kabel bawah laut antara Sumatera-Bangka,” katanya di Kementerian ESDM hari ini, Kamis (31/1/2013).

Nur mengungkapkan listrik untuk Timah tersebut bisa berasal dari pembangkit mana pun yang ada di Sumatera, karena Sumatera telah memiliki sistem interkoneksi jaringan listrik.

Untuk harganya sendiri, Nur mengaku belum dapat menentukan apakah PLN akan mengenakan tarif listrik premium kepada Timah. Pasalnya, saat ini kedua badan usaha milik negara (BUMN) itu masih dalam tahap membicarakan pasokan listrik.

Sementara itu, Direktur PT Timah (Persero) Tbk Sukrisno mengatakan pihaknya meminta PLN memasok listrik sebesar 23 megawatt (MW). Dengan begitu, Timah nantinya juga akan memikirkan kembali rencananya untuk membangun pembangkit listrik bersama PT Bukit Asam (Persero) Tbk dengan kapasitas 2X8 MW.

“Kami akan membuat MoU dengan PLN agar dia menyuplai semua kebutuhan listrik di Timah. Ini sudah batal [rencana pembangunan pembangkit dengan Bukit Asam],” ujarnya.

Kebutuhan 23 MW itu menurutnya hanya untuk eksisting untuk pengembangan Tin Chemical. “Nanti mungkin akan nambah lagi [permintaan pasokan listriknya], tapi kalau hanya menyanggupi 23 MW bisa lah,” jelasnya.

Sebelumnya, Timah berencana membangun pembangkit listrik untuk kebutuhan pabrik Tin Chemical. Saat itu, perusahaan berencana bekerja sama dengan Bukit Asam untuk membangun pembangkit dengan kapasitas 2x8 megawatt (MW).

Kebutuhan listrik untuk pabrik tersebut cukup kecil, yakni kebutuhan maksimal 2 MW untuk kawasan Industri Tanjung Ular, Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Awalnya, perusahaan akan membeli listrik dari pembangkit yang akan dibangun oleh Bukit Asam. Selain itu, rencananya listrik tersebut juga akan digunakan untuk kebutuhan kawasan industri di Bangka. 

Penggunaan listrik itu juga mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini digunakan untuk menghidupkan genset. Bahkan, Timah memperkirakan biaya operasional yang bisa dihemat dari penggunaan listrik dapat mencapai Rp60 miliar per tahun. (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top