Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PEMBANGUNAN SMELTER: Pemerintah Kaji Penggunaan APBN

JAKARTA: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkaji penggunaan dana dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga di dalam negeri.Dirjen  Mineral dan Batu Bara
News Editor
News Editor - Bisnis.com 31 Januari 2013  |  15:34 WIB

JAKARTA: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkaji penggunaan dana dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga di dalam negeri.

Dirjen  Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Thamrin Sihite mengatakan hingga saat ini belum ada lagi investor yang berani membangun smelter tembaga di dalam negeri.

Karenanya, pemerintah harus memikirkan opsi lain untuk membangun smelter untuk mendapatkan nilai tambah dari pengolahan tembaga.

Kementerian ESDM menilai harusnya ada dana APBN yang bisa digunakan, kalau memang tidak ada pihak swasta yang masuk ke situ [pembangunan smelter tembaga].

"Akan tetapi, hal ini masih harus dikaji dan dibicarakan dengan Kementerian Keuangan," katanya di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (31/1/2013).

Thamrin mengungkapkan nantinya smelter tersebut bisa dikelola oleh badan usaha milik negara (BUMN) baru, ataupun memberikan penambahan modal kepada BUMN yang telah ada seperti PT Antam Tbk untuk masuk ke dalam pengolahan dan pemurnian tembaga.

Selain itu, Thamrin juga menyebut nantinya dana dari APBN itu dapat juga digunakan untuk memperbesar kapasitas pengolahan tembaga PT Smelting Gresik.

Apalagi di lokasi tersebut juga saat ini terdapat pelabuhan yang cukup luas dan dapat digunakan untuk jalur distribusi.

Selama ini menurutnya, para investor kerap ragu dengan pasokan bahan baku saat mengungkapkan niatnya membangun smelter tembaga di dalam negeri.

Padahal, pemerintah telah menjamin pasokan bahan baku, dengan memaksa PT Newmont Nusa Tenggara dan PT Freeport Indonesia untuk memenuhi kebutuhan  dalam negeri.

Investor dari Rusia yang ingin membangun Nusantara Smelting itu menginginkan kepastian pasokan.

"Kami sudah memaksa Newmont dan Freeport untuk memenuhinya. Saat ini kan hanya 30% yang diolah di Gresik, kami ingin yang 70% sisanya juga ditampung dan diolah di dalam negeri juga," ujarnya.  (ra)
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Rustam-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top