Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DEFISIT PRIMER APBN Ganggu Kesinambungan Fiskal

JAKARTA--Defisit keseimbangan primer APBN berisiko mengganggu kesinambungan fiskal karena beban bunga utang harus ditutup dengan penarikan pokok utang baru. Akibatnya, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto berisiko membengkak.Menteri Keuangan Agus
- Bisnis.com 29 Januari 2013  |  20:02 WIB

JAKARTA--Defisit keseimbangan primer APBN berisiko mengganggu kesinambungan fiskal karena beban bunga utang harus ditutup dengan penarikan pokok utang baru. Akibatnya, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto berisiko membengkak.

Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo mengatakan kesimbangan primer APBN merupakan indikator fiskal yang penting, sehingga besarannya perlu diwaspadai. Keseimbangan primer, jelas Agus, merupakan selisih antara penerimaan negara dikurangi belanja negara di luar bunga utang.

"Kalau keseimbangan primer negatif artinya untuk membayar bunga utang sudah menggunakan pokok utang baru. Oleh karena itu perlu diwaspadai," kata Agus di sela rapat kerja terkait data pemilih Pemilu 2014 hari ini, Selasa (29/01/2012).

Defisit keseimbangan primer pada 2011 dan 2012 tercatat sebesar Rp44,3 triliun dan Rp45,5 triliun. Menurut Agus, defisit tersebut terbentuk akibat tidak optimalnya penerimaan negara dan membengkaknya belanja, terutama akibat beban subsidi energi.

Keseimbangan primer terkait erat dengan defisit APBN. Untuk itu, pemerintah akan menjaga kesehatan fiskal dengan memperhatikan keseimbangan primer yang terkait dengan realisasi penerimaan dan belanja negara.

"Kita nanti dalam penyusunan APBN 2014 ingin jaga maksimum defisit pada kisaran 1-1,2% terhadap PDB. Itu adalah bentuk respon dan ini akan diikuti penerimaan negara yang dioptimalkan dan belanja negara yang dikendalikan," ujarnya.

Upaya menekan defisit APBN diharapkan dapat membuat keseimbangan primer APBN bisa lebih baik meskipun tidak mencapai surplus.

Menurut Agus, pemerintah memiliki strategi untuk merealisasikan balance budget. Namun dengan perkembangan ekonomi dunia dan masih dibutuhkannya stimulus di dalem negeri, defisit fiskal pada 2014 diproyeksi belum mampu mencapai 0%. Pasalnya, defisit masih diperlukan karena pertumbuhan ekonomi masih membutuhkan stimulus dari sisi konsumsi pemerintah.

"Dalam PDB kita, faktor pengeluaran pemerintah ada di kisaran 15-20%. Selain itu, pemerintah punya fungsi mengatur, mengeluarkan regulasi-regulasi yang akan membuat investasi swasta dan ekspor bergerak," katanya. (sut) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top