Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

USAHA PERTAMBANGAN diminta gencarkan efisiensi

JAKARTA: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta perusahaan pertambangan melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usahanya di saat tidak anjloknya harga komoditas hasil pertambangan.Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba)
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Januari 2013  |  14:20 WIB

JAKARTA: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta perusahaan pertambangan melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usahanya di saat tidak anjloknya harga komoditas hasil pertambangan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Thamrin Sihite mengatakan seharusnya perusahaan pertambangan melakukan efisiensi bisnisnya untuk mengatasi persoalan harga komoditas.

Apalagi saat ini banyak perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) yang memiliki modal pas-pasan.

"Harga jual rendah pasti akan mempengaruhi produksi juga. Logis saja, harga komoditas saat ii sedang turun, makanya efisiensi yang harus dilakukan. Apalagi ada pemegang IUP yang memiliki modal pas-pasan," katanya, Rabu (16/1/2013).

Meski demikian, Thamrin masih yakin perusahaan pertambangan masih memiliki keuntungan meski pun harga komoditas terus anjlok, sehingga tidak akan banyak perusahaan pertambangan yang menutup usahanya.

Sayangnya hingga kini Thamrin mengaku belum mendapatkan laporan jumlah pasti perusahaan pertambangan pemegang IUP yang tutup karena anjloknya harga komoditas pertambangan.

Seperti diketahui puluhan perusahaan pertambangan batu bara dan timah di sejumlah daerah terpaksa menutup usahanya, karena anjloknya harga komoditas pertambangan.

Akibatnya, ratusan pekerja di perusahaan tersebut mengalami pemutusan hubungan kerja.

Sementara itu, Direktur Batu Bara Ditjen Minerba Edy Prasodjo mengakui ada beberapa perusahaan batu bara yang terpaksa menutup usahanya karena harga komoditas batu bara yang masih rendah.

"Ada beberapa [perusahaan batu bara] yang tutup karena harganya rendah seperti di Kalimantan. Sampai saat ini tidak ada datanya.

Mungkin datanya di daerah karena sebagian besar pemegang IUP," ungkapnya.

Menurutnya, hingga saat ini harga komoditas batu bara terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya permintaan.

Untuk Januari 2013 saja harga batu bara dunia telah naik US$6 yang dipicu dengan meningkatnya permintaan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Karena saat ini masih musim dingin, permintaan juga naik, selain itu beberapa pembangkit baru juga akan beroperasi. Tahun ini sekitar 74 juta ton untuk PLTU [pembangkit listrik tenaga uap]," tuturnya.

Pemerintah sendiri menginginkan harga batu bara acuan (HBA) rata-rata komoditas batu bara sekitar US$90-US$100 per ton. Hal itu dipicu dengan terus membaiknya perekonomian negara tujuan ekspor batu bara.   (ra)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Rustam-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top