Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI OTOMOTIF: Pelaku tunggu kebijakan bea anti dumping baja

DEPOK-- Pelaku industri otomotif menunggu keputusan pemerintah terkait usulan pengenaan bea masuk anti dumping terhadap produk baja lembaran impor karena dikhawatirkan dapat membebani biaya produksinya sehingga harga jual kendaraan menjadi lebih mahal.
- Bisnis.com 16 Januari 2013  |  20:36 WIB

DEPOK-- Pelaku industri otomotif menunggu keputusan pemerintah terkait usulan pengenaan bea masuk anti dumping terhadap produk baja lembaran impor karena dikhawatirkan dapat membebani biaya produksinya sehingga harga jual kendaraan menjadi lebih mahal.

Endro Nugroho, Sales Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales mengatakan, jika pemerintah menyetujui usulan dari Komite Anti Dumping Indonesia tersebut maka produk baja lembaran yang diimpor untuk industri otomotif dari beberapa negara menjadi lebih mahal harganya.

"Kalau akhirnya usulan Komite Anti Dumping Indonesia diikuti, kemungkinan besar harga baja impor itu akan naik harganya, dan tentu nanti berpengaruh kepada harga jual kendaraan," katanya saat peresmian diler Suzuki Duta Cendana Adimandiri Cinere Depok, Rabu (16/1/2013).

Menurutnya, keputusan pemerintah terkait bea masuk anti dumping produk baja lembaran canai dingin atau cold rolled coil/sheed impor, menjadi salah satu faktor yang diantisipasi para pelaku industri otomitif, sebagai komponen biaya produksi yang diprediksi akan naik.

Selain itu, lanjutnya, komponen biaya produksi lain yang diprediksi dapat memberatkan industri otomotif nasional adalah penaikan upah minimum, rencana penaikan tarif listrik industri, serta penaikan uang muka kredit lembaga keuangan syariah dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Seperti diketahui, Komite Anti Dumping Indonesia telah menyampaikan rekomendasi kepada Menteri Perdagangan mengenai pengenaan bea masuk anti dumping terhadap produk baja lembaran canai dingin atau cold rolled coil/sheet impor sebesar 10%-68%. (Bisnis.com, 21/12/2012).(msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Nurudin Abdullah

Editor : Martin-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top