Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PENERIMAAN SEKTOR ESDM: Melesat Dari Target APBN-P 2012

JAKARTA—Pemerintah memperkirakan perolehan penerimaan negara dari sektor ESDM tahun ini sebesar Rp415,2 triliun atau 103% dari target dalam APBN-P 2012 sebesar Rp404,68 triliun. 
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Desember 2012  |  21:15 WIB

JAKARTA—Pemerintah memperkirakan perolehan penerimaan negara dari sektor ESDM tahun ini sebesar Rp415,2 triliun atau 103% dari target dalam APBN-P 2012 sebesar Rp404,68 triliun. 

Total penerimaan Rp415,2 triliun itu terdiri dari penerimaan migas Rp289 triliun, pertambangan umum Rp123,59 triliun, panas bumi Rp0,74 triliun, dan penerimaan lainnya Rp1,87 triliun. 

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan sumbangan sektor migas terhadap penerimaan negara dari ESDM, masih sangat besar. 

Oleh sebab itu, adanya kejadian pada 13 November lalu saat Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan putusan yang ‘membubarkan’ BP Migas, pemerintah segera mengambil tindakan demi menjaga iklim investasi di sektor migas. 

“Ada beberapa capaian di sektor ESDM tahun ini. Pertama, sesuatu yang tadinya serem tapi bisa diatasi adalah kejadian 13 November 2012 di mana BP Migas dibubarkan. Bagi ESDM, itu adalah hal besar sekali karena menyangkut risiko runtuhnya kepercayaan industri migas dan revenue negara dari industri migas,” ujarnya dalam konferensi pers akhir tahun sektor ESDM, Rabu (26/12). 

Jero menegaskan dengan dibubarkannya BP Migas, industri migas jadi terancam sehingga diterbitkanlah Perpres dan dua buah Kepmen. Hal ini diklaim Jero Wacik sebagai salah satu pencapaian sektor ESDM tahun ini. 

“Jadi itu salah satu peristiwa yang hampir menggoncangkan industri migas. Saya susun dua kepmen dan stabil-lah operasi migas dan berubah namanya menjadi SK Migas [Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas],” ujarnya. 

Selain itu,  dia  mengklaim adanya keberpihakan agar pasokan gas yang diproduksi dalam negeri, bisa dipasok untuk domestik seperti kebutuhan listrik, pupuk, petrokimia, dan industri. 

“Sekarang gas jadi prioritas. Setiap ada penemuan gas baru, saya cek dan itu untuk domestik. Porsinya harus ada 20%—30%, malah ada yang 40% untuk domestik,” ujarnya.  (if) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Wan Ulfa Nur Zuhra

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top