ANTI DUMPING: KADI rekomendasi BMAD untuk baja lembaran canai dingin

JAKARTA-- Komite Anti Dumping Indonesia menyampaikan rekomendasi bea masuk anti dumping terhadap produk baja lembaran canai dingin atau cold rolled coil/sheet impor kepada Menteri Perdagangan setelah melalui masa penyelidikan hampir 18 bulan.
Siti Harianti Manurung
Siti Harianti Manurung - Bisnis.com 21 Desember 2012  |  20:03 WIB

JAKARTA-- Komite Anti Dumping Indonesia menyampaikan rekomendasi bea masuk anti dumping terhadap produk baja lembaran canai dingin atau cold rolled coil/sheet impor kepada Menteri Perdagangan setelah melalui masa penyelidikan hampir 18 bulan.

“Sore ini saya memberikan rekomendasi kepada pemerintah, ke Kemendag. Dari Kemendag nanti disampaikan pada kementerian lainnya (Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan) untuk mendapatkan pertimbangan apakah mendukung atau menolak,” kata Ketua KADI Bachrul Chairi di Jakarta, Jumat (21/12/2012).

Pihaknya mengusulkan bea masuk antidumping (BMAD) antara 10%-68% terhadap impor CRC/S yang diproduksi 12 perusahaan eksportir di China, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan Vietnam.

“Yang paling besar [usulan BMAD-nya] perusahaan-perusahaan yang tidak kooperatif, terutama RRC (Republik Rakyat China),” ungkapnya.

Seperti diketahui, inisiasi antidumping CRC/S dimulai 24 Juni 2011 setelah PT Krakatau Steel mengajukan petisi berkaitan dengan dugaan dumping CRC/S impor yang menekan daya saing produk lokal serupa.

Sesuai ketentuan, batas waktu penyelidikan berakhir 18 bulan kemudian atau tepat pada 24 Desember 2012.

Berdasarkan investigasi KADI terhadap 13 nomor harmonized system (HS), eksportir menjual produknya lebih murah di Indonesia ketimbang di negeri asalnya. 

Namun menurut Bachrul, pihaknya juga akan memberikan alternatif pengenaan BMAD berdasarkan margin injury yang diperhitungkan dari selisih harga ekspor CRC/S dengan biaya produksi ditambah keuntungan pemohon. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan besaran margin injury tersebut.

“Yang pasti lebih rendah dari margin dumping berdasarkan investigasi KADI,” ujarnya.

Berdasarkan data Kemendag, impor CRC/S dari lima negara itu naik tajam selama 5 tahun terakhir. Pada 2007, impor bahan baku beberapa produk elektronik dan otomotif itu masih 325.510,56 ton dan terus melonjak menjadi 728.899,7 ton pada 2011. Adapun sepanjang Januari-Agustus 2012, impor CRC/S mencapai 604.337,75 ton.

Manager Corporate Communication PT Krakatau Steel Wisnu Kuncara menyampaikan pihaknya masih menunggu hasil akhir penyelidikan (final disclosure) dari KADI.(msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Sri Mas Sari

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top