PROYEKSI EKONOMI 2013: Waspadai Utang Jangka Pendek

JAKARTA—Peningkatan yang terus menerus terhadap utang jangka  pendek swasta perlu diwaspadai karena berisiko terhadap pelemahan cadangan  devisa negara yang berasal dari risiko-risiko global.    David Sumual, Ekonom Bank
Nancy Junita - nonaktif | 19 Desember 2012 05:29 WIB

JAKARTA—Peningkatan yang terus menerus terhadap utang jangka  pendek swasta perlu diwaspadai karena berisiko terhadap pelemahan cadangan  devisa negara yang berasal dari risiko-risiko global.    David Sumual, Ekonom Bank Central Asia, mengatakan cadangan  devisa merupakan penahan [buffer] ekonomi terhadap risiko-risiko yang berasal  dari luar. Namun, sambungnya, posisi utang jangka pendek swasta saat ini terhadap  cadangan devisa masih belum mengkhawatirkan.    “Sekitar 30% utang [luar negeri] swasta jangka pendek itu  masih oke, tapi kalau tiba-tiba yang  jangka pendek itu makin lama makin banyak, itu yang kita dikhawatirkan,”  katanya dalam acara Penganugerahan LUNI FEUI Award 2012, Selasa (18/12).   David mengatakan risiko itu akan semakin besar apabila  penarikan utang jangka pendek digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek jangka  panjang. Pola tersebut, imbuhnya, pernah terjadi pada masa krisis 1997-1998.   “Dikhawatirkan, utang jangka pendek digunakan untuk proyek  jangka panjang seperti 1998. Dan kekhawatiran waktu itu kan utang jangka pendek [berdenominasi] dolar, padahal penghasilan rupiah,”  jelasnya.   David juga mengingatkan penarikan utang luar negeri dengan  denominasi dolar oleh perusahaan yang jenis pendapatannya berdenominasi rupiah.  Risiko tersebut berupa pembengkakan nilai utang pada saat rupiah mengalami  pelemahan.   Telisa Aulia Felianti, Ekonom dari EC-Think, menyarankan adanya  sistem lindung nilai [hedging] terhadap  utang luar negeri swasta. Sistem lindung nilai itu berfungsi untuk melindungi  utang luar negeri berdenominasi dolar terhadap pelemahan rupiah yang terus  menerus.    “Kalau lihat pola 1997, swasta utangnya membengkak besar, lalu  tidak dihedging. Mudah-mudahan, sekarang pengusaha sudah belajar dari krisis 1997,  [utang luar negeri] harus dihedging,” ujarnya.   Menurut David, sebagian besar utang luar negeri swasta belum  memakai sistem lindung nilai. Hal itu, lanjutnya, bisa terlihat dari kerugian  penurunan nilai yang banyak dialami oleh debitur.    “Kebanyakan tidak pakai hedging,  mereka mencatatkan forex loss [foreign exchange loss/kerugian penurunan nilai],”  katanya.    Namun, lanjutnya, kerugian penurunan nilai yang dialami  tidak terlalu besar karena pelemahan rupiah saat ini tidak terlalu  mengkhawatirkan.    Berdasarkan data Bank Indonesia, penarikan jenis utang luar  negeri jangka pendek swasta cenderung meningkat sejak tahun 2006. Pada 2006, rasio  utang luar negeri jangka pendek adalah 18% terhadap keseuruhan utang luar  negeri.    Rasio tersebut terus meningkat hingga mencapai 31,8% pada  2011. Adapun, sampai dengan September 2012, rasio utang luar negeri jangka  pendek swasta terhadap keseluruhan utang luar negeri adalah 29,3% atau sebesar  US$36,1 miliar. (c26/Bsi)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup