CHITIN & CHITOSAN: Bahan baku langka, harga tinggi

JAKARTA--Produsen chitin dan chitosan dalam negeri mengeluhkan tingginya harga kulit udang sebagai bahan baku kedua komoditas tersebut.Lim, pemilik PT Noble Biotech Indonesia mengatakan harga kulit udang di Indonesia mencapai Rp6.000--Rp7.000 per kilogram.“Kita
News Editor | 10 Desember 2012 17:33 WIB

JAKARTA--Produsen chitin dan chitosan dalam negeri mengeluhkan tingginya harga kulit udang sebagai bahan baku kedua komoditas tersebut.Lim, pemilik PT Noble Biotech Indonesia mengatakan harga kulit udang di Indonesia mencapai Rp6.000--Rp7.000 per kilogram.“Kita beli bahan baku dengan harga Rp6.000 -- Rp7.000 per kilogram, sedangkan negara lain mampu mendapatkan bahan baku dengan kisaran harga Rp4.000--Rp5.000 per kilkogram," ujarnya, Senin (10/12).Lim menambahkan tingginya harga bahan bahan baku membuat harga jual chitin dan chitosan terlampau tinggi dibandingkan dengan produk sejenis yang berasal dari negara lain. Menurutnya, harga chtiin dan chitosan yang dipasarkan Noble Biotech saat ini mencapai US$20 per kilogram.“Tingginya harga produk olahan tersebut, membuat kita sulit bersaing dengan negara pesaing utama seperti Thailand, Bangladesh dan Kamboja,” imbuhnya.Padahal, lanjutnya, potensi pasar kedua produk tersebut cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan pengawet ikan dan kosmetik. Potensi pasar kedua produk tersebut mencapai 100 juta ton per bulan dengan Jepang dan Korea sebagai dua negara konsumen terbesar.Dirjen P2HP Kementrian Perikanan Saut Hutagalung berkomitmen untuk membangun kerjasama antara pembudidaya, asosiasi, dan pelaku indsutri. Harapannya, kebutuhan kulit udang untuk produksi chitin dan chitosan bisa dipenuhi.“Di masa datang, akan kita perkuat kerja sama ini, agar ketika masa panen tiba industri pengolahan kebagian bahan baku, sementara para pembudidaya udang mendapatkan pendapatan lebih dari menjual kulit udang tersebut,” katanya.Saut menjelaskan produksi chitosan merupakan salah satu bentuk implementasi konsep ekonomi biru. Hal tersebut dikarenakan produksi komoditi tersebut menggunakan kulit udang sebagai limbah yang selama ini tidak termanfaatkan."Selama ini kita mengekspor udang yang produk utamanya dalam bentuk daging, sedangkan kepala dan kulitnya menjadi limbah hasil perikanan yang tidak memiliki nilai ekonomis. Dengan filosofi Blue Economy, sisa hasil perikanan dapat diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi seperti chitin dan chitosan," bebernya.Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo menyebut pemanfaatan produk-produk turunan seperti chitin dan chitosan bisa menyumbang pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan produk awalnya. Oleh sebab itu, kemampuan inovasi dan teknologi bakal menjadi kunci penerapan konsep ekonomi biru.“Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menerapkan hasil pengembangan Iptek kelautan dan perikanan menjadi teknologi siap pakai untuk difungsikan dalam sistem produksi Blue Economy. KKP tengah menginventarisir hasil penelitian dan teknologi dan identifikasi pasar yang potensial untuk memasarkan produk-produk turunan tersebut,”  jelasnya. (Bsi)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Muhammad Kholikul Alim

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup