Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PASOKAN RUMAH: Pasar properti di Tanah Air akan berkembang

JAKARTA – Pasar properti di Tanah Air dinilai masih aman dan dapat berkembang dengan baik menyusul kondusifnya perekonomian dan besarnya jumlah kekurangan pasokan ( backlog) rumah yang ada.
Deriz Syarief
Deriz Syarief - Bisnis.com 31 Oktober 2012  |  21:12 WIB

JAKARTA – Pasar properti di Tanah Air dinilai masih aman dan dapat berkembang dengan baik menyusul kondusifnya perekonomian dan besarnya jumlah kekurangan pasokan ( backlog) rumah yang ada.

Handaka Santosa, Wakil Ketua Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI), mengatakan proyek properti yang baik dilihat dari lokasi yang tepat dan konsep pengembangannya. Selain itu, saat membeli properti konsumen juga mempertimbangkan pengembang yang membangun proyek tersebut.

“Tidak ada persaingan yang tidak sempurna pada pasar properti di Tanah Air. Saat membeli konsumen mempertimbangkan lokasi, konsep pengembangannya bagaimana, dan siapa pengembangnya,” ujar Handaka saat dihubungi Bisnis, Rabu (31/10/2012).

Handaka juga mengklaim tidak ada spekulasi dalam industri properti. Menurutnya, properti dapat menjadi pilihan investasi selain emas dan bermain di pasar modal atau deposito. Kenaikan harganya tergantung pada lokasi pengembangan proyek itu.

“Berinvestasikan pasti mendapatkan keuntungan, seperti halnya berinvestasi di deposito atau saham. Kenaikan proyek properti juga berbeda-beda, ada yang naiknya cukup tinggi ada yang kecil, tergantung lokasi. Tidak ada spekulasi disini, konsumen sebagian besar untuk dihuni atau disewakan, sangat sedikit yang digunakan untuk spekulasi,” imbuhnya.

Direktur Eksekutif  Indonesia Properti Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan pasar properti di Indonesia masih relatif baru sehingga pertumbuhannya tinggi serta diwarnai persaingan tidak sempurna dan latah.

Menurutnya konsumen dan pengembang sama-sama latah sehingga kadang dengan promosi yang besar konsumen akan tertarik meskipun belum tentu proyek tersebut bagus.

“Pengembang menggunakan konsumen behavior, mengambil hati konsumen dengan melakukan serangkaian promosi dimana-mana baik media cetak, TV, radio maupun spanduk dan baliho di jalan,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, sektor properti yang masih menjadi hal baru dengan pertumbuhan yang tinggi itulah yang memberikan ruang bagi pengembang dan konsumen untuk melakukan spekulatif.

"Tetapi kami pikir meskipun memberikan ruang bagi pengembang dan konsumen untuk melakukan spekulatif, Indonesia masih jauh dari bubble [penggelembungan] properti karena permintaan masih tetap ada," tutur Ali.

Dia menuturkan tidak akan terjadi bubble properti dalam 5 tahun ke depan, yang terjadi hanyalah koreksi harga karena over value (kelebihan harga penjualan) di beberapa wilayah.

Dia menjelaskan karena pasar properti di Tanah Air masih diwarnai persaingan tidak sempurna sehingga dimungkinkan proyek dengan lokasi kurang baik akan terlebih dahulu laku karena terlebih dahulu masuk pasar. (msb)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Siti Nuraisyah Dewi

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top