Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KEBIJAKAN SEKTOR PERTAMBANGAN RI Jadi Sorotan Investor Global

JAKARTA: Caterpillar Inc menilai beberapa aturan di sektor pertambangan yang diterbitkan oleh pemerintah sepanjang tahun ini menjadi perhatian investor global dalam berinvestasi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 Oktober 2012  |  21:00 WIB

JAKARTA: Caterpillar Inc menilai beberapa aturan di sektor pertambangan yang diterbitkan oleh pemerintah sepanjang tahun ini menjadi perhatian investor global dalam berinvestasi.

Kevin Thieneman, Country Manager Caterpillar wilayah China, India, dan ASEAN mengatakan berinvestasi di sektor sumber daya alam termasuk tambang adalah 'pertaruhan' bisnis jangka panjang antara 50 hingga 100 tahun.

"Ada some concern dari investor global yang bisa shifting pendirian mereka. Oleh sebab itu, konsistensi kebijakan adalah kritis.   Untuk sebagian pelanggan kami, aturan-aturan baru itu menciptakan peluang baru. Tapi untuk sebagiannya lagi, mereka lebih concern," ujarnya dalam acara media briefing hari ini, Rabu (24/10/2012).

Seperti diketahui, aturan-aturan baru itu seperti Permen ESDM 7/2012 tentang kewajiban mengolah di dalam negeri serta PMK terkait kewajiban membayar bea keluar 20% untuk ekspor bijih mineral mentah. Kevin mengatakan Indonesia dulu masuk dalam 10 besar negara dengan peluang investasi di sektor pertambangan. Tapi saat melihat kesadaran perusahaan terkait di mana dia akan berinvestasi, Indonesia masuk di bawah 10.

"Saat ada aturan baru keluar, Indonesia jadi makin turun. Tapi kami juga melihat memang banyak regulasi yang diterbitkan di negara lain seperti Australia yang menaikkan royalti dan pajaknya, Vietnam yang merevisi UU pertambangannya, serta India yang juga berencana upgrade UU," tambahnya.

Meski demikian, Kevin menyatakan secara umum, Indonesia memang tidak kompetitif untuk menarik investasi langsung (FDI) pada 2007. Namun saat ini (2012), Indonesia sudah kompetitif seiring dengan terbitnya masterplan ekonomi serta aturan tentang pembebasan lahan.

"Untuk industri machinery, sekarang Indonesia kompetitif. Memang saat ini industri alat berat sedang softening. Tapi untuk jangka panjang, Indonesia masih sangat positif [pertumbuhannya]," ujarnya. 

Di Indonesia, Caterpillar banyak menyuplai alat berat untuk sektor pertambangan, pembangkit listrik, migas, konstruksi, kehutanan, dan pertanian. Trakindo, dealer Caterpillar di Indonesia saat ini memiliki 60 cabang di seluruh Indonesia.

Perusahaan-perusahaan tambang seperti PT Vale Tbk, PT Newmont Nusa Tenggara, dan PT Freeport Indonesia merupakan beberapa konsumen yang sudah lama menggunakan truk, alat pengangkut, dan berbagai jenis traktor milik Caterpillar. Tambang bawah tanah Freeport di Grasberg, Papua telah menjadi wilayah dengan mesin peralatan tambang bawah tanah Caterpillar terbesar dengan lebih dari 130 unit.

Caterpillar memiliki fasilitas produksi di Cileungsi, Bogor yang dibangun pada 1982. Caterpillar berencana mendirikan fasilitas baru untuk membangun badan truk untuk tambang dan konstruksi di Batam dengan nilai investasi sekitar US$150 juta. Fasilitas itu akan dilengkapi dengan dermaga yang bisa memudahkan pengiriman ke berbagai negara.

"Progress-nya sekarang on track. Sekitar dua tahun lalu kami shifting produksi dari Jepang ke Indonesia. Ini adalah investasi terbesar kami sepanjang sejarah di Indonesia. Pabriknya akan beroperasi Januari 2013, kemungkinan bisa selesai konstruksi Desember tahun ini," jelasnya.  (sut)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top