Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERTAMBANGAN ENERGI: Ekspor batu bara akan diawasi

JAKARTA : Pemerintah akan mengatur tata niaga batu bara sebagai komoditas yang akan diawasi ekspornya, dari saat ini yang masih masuk kategori bebas diekspor.   Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu bara Kementerian ESDM Edi Prasodjo mengatakan
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 31 Mei 2012  |  21:00 WIB

JAKARTA : Pemerintah akan mengatur tata niaga batu bara sebagai komoditas yang akan diawasi ekspornya, dari saat ini yang masih masuk kategori bebas diekspor.   Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu bara Kementerian ESDM Edi Prasodjo mengatakan para pengusaha batu bara yang ingin mengekspor batu bara nantinya harus mendapatkan pengakuan sebagai eksportir terdaftar dari Kemendag, seperti halnya ekspor produk bijih mineral (raw material atau ore). “Kami sedang diskusi untuk mengendalikan produksi batu bara, nanti ada tata niaganya, termasuk tata niaga ekspor. Sekarang kan batu bara bebas ekspor, nah itu kan ada 3 kategori [barang ekspor] yaitu bebas, diawasi, atau dilarang. Batu bara mungkin akan ditingkatkan jadi yang diawasi,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara Indonesia Mining Updates 2012, hari ini.Edi mengatakan upaya pengendalian produksi batu bara belum sampai kepada pelarangan ekspor atau pengenaan bea keluar, seperti halnya bea keluar untuk ekspor bijih mineral yang regulasinya belum lama ini diterbitkan. “Ngga, bea keluar itu belum tuntas, masih dibahas,” ujarnya. Menurut Edi, porsi batu bara yang diekspor saat ini semakin meningkat, dari dulunya 70% dari total produksi, tahun lalu menjadi 80% diekspor. Untuk tahun depan, pemerintah sudah menerima rencana produksi batu bara sebesar 469 juta ton dan masih bisa meningkat. “Selain PKP2B, memang pemegang IUP batu bara sangat banyak, mereka semangat produksinya cukup besar, walau pun harga turun tapi tetap produksi juga. Tahun depan yang masuk angkanya sudah 469 juta ton, ini angka sementara. Kalau semua masuk bisa mendekati 500 juta ton, itu sudah lampu merah atau lampu kuning, warning,” ujarnya.Edi mengatakan pada 1998, produksi batu bara hanya 60 juta ton. Artinya, produksi pada 2013 pertumbuhannya sudah di atas 800%.“Nah ini sangat luar biasa. Oleh karena itu pemikiran kita ke depan, DMO [Domestic Market Obligation] jalan terus tapi kalau produksi ini ke depan bagaimana? Ini yang jadi salah satu pemikiran ke depan, cadangan kita tuh ngga banyak. [Mari] kita berpikir sebagai bangsa, tidak semata-mata sebagai corporate,” ujar Edi.(api)

 

 

BERITA LAINNYA:

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top