Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INVESTASI SMELTERJumlah proposal membengkak 2 kali lipat jadi 157

 
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 29 Mei 2012  |  00:40 WIB

 

JAKARTA: Pemerintah kini menerima total 157 rencana pengolahan dan pemurnian di Indonesia, membengkak hampir dua kali lipat dibandingkan dengan status 4 Mei lalu sebanyak 84 rencana. 
 
Berdasarkan data Kementerian ESDM per 21 Mei 2012, 157 rencana pengolahan dan pemurnian itu terdiri dari 7 yang eksisting saat ini, 24 sebelum terbitnya Permen ESDM No.7 Tahun 2012, dan 126 setelah terbitnya Permen 7/2012. 
 
Sebelumnya per 4 Mei 2012, pemerintah baru menerima total 84 dokumen rencana pengolahan dan pemurnian, terdiri dari 7 perusahaan telah beroperasi, 27 perusahaan sebelum terbitnya Permen 7/2012, dan 50 perusahaan setelah terbitnya Permen 7/2012. 
 
Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan tujuan Permen 7/2012 adalah demi mengamankan UU No.4 Tahun 2009 tentang Minerba yang mengharuskan tidak boleh ada ekspor mineral mentah mulai 2014. Untuk mengamankan itu, mulai tahun ini perusahaan mineral harus siap-siap membuat smelter agar sudah bisa beroperasi pada 2014. 
 
“Smelter itu tidak bisa satu hari jadi, harus ada program dari sekarang. Masih ada waktu 2 tahun,” ujar Wacik. 
 
Awalnya, pemerintah mengakui ada resistensi dari para pengusaha untuk mengajukan proposal pembangunan pengolahan dan pemurnian. Namun kini sudah mulai banyak yang mengajukan, terbukti dari semakin bertambahnya angka proposal smelter. 
 
Menurutnya, tidak ada niat pemerintah untuk membangkrutkan pengusaha melalui regulasi ini. Pengusaha tidak bangkrut, lanjutnya, hanya keuntungannya jadi berkurang. Wacik juga membantah regulasi ini menyebabkan PHK pekerja tambang besar-besaran. 
 
“Saya bekas pengusaha, tidak ada niat saya untuk bangkrutkan perusahaan. Soal PHK, ngga [ada]. Saya sudah lihat, tadinya untungnya banyak, sekarang untungnya sedikit,” ujarnya. 
 
Wacik menegaskan perusahaan mineral yang selama ini mengekspor bijih (raw material), bisa bekerjasama dengan beberapa perusahaan lainnya untuk membangun smelter. 
 
“Misalnya tambang di Sulawesi Tenggara, itu saya sudah cek. Mereka kecil-kecil, sedangkan kalau bangun smelter butuh listrik. Saya bilang oke kalau belum ada listrik, 3—4 tambang bikinlah smelternya 1, dibikin di lokasi yang listriknya banyak. Saya dapat info di Palu listriknya banyak, tapi belum ada industri,” ujarnya. (sut)
 

 

 

 

BACA JUGA:

Skandal seks DPR mulai terkuak

Kekhawatiran data China pukul saham pertambangan

Hasil F1 Monaco, Webber juaranya

Rossi masuk Honda gantikan Stoner?

Nilai tukar rupiah, gimana hari ini?

 

SITE MAP:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top