Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BELANJA MODAL: Pertamina Hulu habiskan Rp11,6 triliun

 
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Mei 2012  |  18:30 WIB

 

 

JAKARTA : PT Pertamina Hulu Energi (PHE) telah menggunakan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar kurang lebih Rp2 triliun hingga kuartal I/2012, atau 17,2% dari yang dianggarkan tahun ini sekitar Rp11,6 triliun.

 

Capex tahun ini difokuskan untuk rencana pengembangan lima aset terbesar,” ujar Presiden Direktur PHE Salis S. Aprilian, hari ini, Senin, 21 Mei 2012.

 

Kelima aset itu adalah pertama untuk Blok West Madura Offshore (WMO) Rp2,97 triliun, lalu Donggi Senoro LNG Rp2,14 triliun, ONWJ Rp1,37 triliun, Senoro Toili Rp1,23 triliun, dan Karama Rp624 miliar. Secara total, dana capex akan digunakan utamanya untuk mengebor total 64 sumur eksplorasi dan 125 sumur pengembangan.

 

Tahun ini, PHE menargetkan produksi minyak sebesar 71.000 barel per hari (bph), paling besar disumbang dari produksi ONWJ dan WMO. Sementara itu produksi gas ditargetkan 545 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) termasuk produksi CBM, paling besar masih banyak disumbang oleh WMO, ONWJ, dan Grissik.

 

“Sekarang produksi minyak 62.000 bph sementara gas sekitar 500 MMSCFD,” ujarnya.

 

Pada 2016, PHE menargetkan produksi sebesar 250.000 barel setara minyak per hari (MBOEPD). Target itu baru dari aset-aset eksisting saat ini dan belum termasuk hasil merger dan akuisisi.

 

Pada kesempatan yang sama Salis juga mengungkapkan setidaknya ada tiga tantangan yang dihadapi PHE saat ini. Pertama dari sisi operasi, PHE harus bisa mengelola green-brown field, mulai dari energi baru dan bersih seperti CBM hingga lapangan eksisting yang sudah mature. Selain itu, PHE juga mengelola aset darat dan lautan (onshore-offshore) serta aset di dalam mau pun luar negeri.

 

“Ada total 34 aset PHE yang harus dimonitor dan dijaga di dalam negeri dan ada 8 aset PHE di luar negeri,” ujarnya.

 

Tantangan kedua adalah dari sisi portfolio. Salis mengatakan saat melakukan merger dan akuisisi blok migas, terutama yang berada di luar negeri ternyata tidak mudah. Pertamina diketahui melepaskan 10% hak partisipasinya di Australia karena dianggap tidak ekonomis. Produksi minyak di blok itu sangat kecil, yakni hanya sekitar 100 barel per hari sementara biaya operasional di sana sangat mahal karena lokasinya yang lepas pantai (offshore).

 

Secara total, Pertamina melalui PHE mengelola 8 blok migas di 7 negara, yakni di Libya, Sudan, Irak, Qatar, Malaysia, Vietnam, dan Australia. Dua blok yang berada di Malaysia dan Australia saat ini sudah berproduksi. Di luar itu, semuanya masih tahap eksplorasi yang untuk sementara ini ditinggalkan (abandon) karena faktor keamanan.

 

“Ternyata kelola aset di luar negeri itu ngga mudah. Yang di Australia kami mau divest, produksinya sekarang turun terus, ini ngga menguntungkan. Sementara yang di Malaysia, kami mau negosiasi perbaikan harga gas yang saat ini harganya masih rendah, di bawah US$1 per MMBTU,” jelas Salis.

 

Tantangan ketiga adalah dari sisi kerja sama dengan KKKS migas lainnya, baik lokal mau pun asing. PHE berupaya memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh KKKS dan memahami perbedaan budaya yang ada.

 

Hulu tergerus

 

Tahun ini, sektor hulu Pertamina menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp21,1 triliun, meningkat dari realisasi tahun lalu sebesar Rp19,7 triliun. Menurut Salis, laba bersih hulu tahun ini bisa tergerus dari bisnis yang ada di hilir, seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun Salis enggan merinci angkanya.

 

“Target keuntungan Pertamina dipenuhi oleh hulu. Namun di hilir menggerus keuntungan, misalnya dari penjualan BBM PSO. Target teman-teman di pemasaran tahun ini adalah bagaimana agar kerugian itu bisa dikurangi. Tahun lalu laba bersih hulu sebenarnya bisa Rp22 triliun lebih, tapi tergerus jadi Rp19,7 triliun,” ujar Salis.(msb)

 

BERITA MARKET PILIHAN REDAKSI:

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Vega Aulia Pradipta

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top