Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HORTIKULTURAPeritel minta Menperindag revisi ketentuan impor

JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia meminta agar Permendag No.30/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura direvisi, menyusul keberatan mereka atas ketentuan yang melarang peritel mengimpor langsung produk hortikultura. 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 18 Mei 2012  |  17:18 WIB

JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia meminta agar Permendag No.30/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura direvisi, menyusul keberatan mereka atas ketentuan yang melarang peritel mengimpor langsung produk hortikultura. 

 
Wakil Ketua Aprindo Yudhi Komarudin mengatakan beleid itu perlu diubah agar memberikan ruang kepada peritel agar tetap dapat mengimpor langsung sayuran, buah-buahan dan produk turunannya untuk dijual langsung kepada konsumen. 
 
“Kami ingin retailer tetap bisa mengimpor langsung karena merekalah  yang tahu di mana barang-barang itu berada. Aturan ini perlu direvisi  demi kepentingan semua,” katanya, hari ini. 
 
Jika harus mendapatkan pasokan dari distributor, pihaknya juga  khawatir tidak dapat lagi memberikan produk yang berkualitas dan segar  karena terlalu lama dalam proses distribusi. 
 
Regulasi yang berlaku efektif mulai 15 Juni itu pun dirasa tak tepat  karena pada bulan itu, peritel justru harus menyetok sayuran dan  buah-buahan segar dalam jumlah banyak untuk memenuhi lonjakan permintaan menjelang Ramadhan. 
 
Seperti diketahui, pemerintah menerbitkan Permendag No 30/2012 tentang  Ketentuan Impor Hortikultura yang hanya mengizinkan importir terdaftar  (IT) memperdagangkan produk hortikultura yang diimpornya kepada  distributor. 
 
Importir terdaftar juga dilarang memperdagangkan produk hortikultura  yang diimpornya kepada konsumen langsung atau pengecer (retailer). 
 
Konsekuensinya, supermarket yang selama ini memegang angka importir  umim (API-U) tidak dapat lagi mengimpor langsung buah dan sayuran,  tetapi harus mendapatkan pasokan barang dari distributor. 
 
Alasan lainnya, pemerintah selama ini mencurigai supermarket menjual barang yang tidak diterima di negara lain, sehingga bisa mematok harga murah. 
 
“Tidak benar kalau kami dumping dengan menjual produk yang ditolak  negara lain. Justru kami menjual produk yang segar, demi memenuhi  kebutuhan konsumen,” tegas Ketua Aprindo Tutum Rahanta. 
 
Head of Public Affairs Carrefour Indonesia Satria Hamid Ahmadi mengungkapkan pihaknya bisa saja memenuhi kebutuhan dari buah dan sayuran lokal, tetapi pasokan yang tidak kontinyu membuat pihaknya harus melakukan impor. 
 
“Pasokan lokal selama ini terkendala cuaca ekstrem dan infrastruktur yang tidak memadai. Akibatnya, kualitas produk menjadi tidak terjamin. Tampilannya kurang menarik. Belum lagi kami harus menanggung kutipan jembatan timbang di tiap daerah,” ungkapnya. (sut)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Sri Mas Sari

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top