Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemasaran produk UKM harus tembus women market

 
Muhammad Sarwani
Muhammad Sarwani - Bisnis.com 16 Mei 2012  |  20:08 WIB

 

JAKARTA: Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menerapkan strategi pemasaran melalui gathering untuk meraih women market terhadap pemasaran berbagai produk yang ditawarkan melalui UKM Gallery di Gedung SME Tower, Jakarta Selatan.

 

Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran (LLP-KUKM) Yuana Sutyowati, menjelaskan konsep experiental marketing diterapkan untuk memasarkan berbagai produk unggulan UKM tersebut, sasaran utamanya memang kaum perempuan.

 

”Sebab, selain memiliki buying power tinggi, kaum perempuan juga sebagai penentu pembelian beragam produk. Baik produk untuk pria maupun produk pria,” katanya pada diskusi tentang perempuan di UKM Gallery Gedung SME Tower (Rabu, 16 Mei 2012).

 

Konsep tersebut dikedepankan pada pemasaran di UKM Gallery, karena kaum perempuan memang menjadi salah satu target market produk UKM di lokasi tersebut. Konsep experiential marketing tidak hanya ditawarkan produk secara hardselling, tetapi panca indra calon konsumen diajak berinteraksi merasakan produk tersebut sebelum membelinya.

 

Dengan demikian, keputusan pembelian yang diambil saat itu merupakan hasil dari kesimpulan dan opini mereka terhadap produk yang ditawarkan. Oleh karena itu, gathering diwarnai diskusi Perempuan Berpolitik Dalam Demokrasi Substansial, peserta diajak berkeliling mengunjungi paviliun seluruh provinsi Indonesia yang memasarkan produk unggulan UKM di SME Tower.

 

Kunjungan dilakukan usai penampilan fashion show yang menghadirkan baju dan busana khas Indonesia dibawakan putra-putri  Duta Koperasi.  Acara menjadi menarik karena model dan peserta fashion show menggunakan busana daerah serta aksesoris yang dipasarkan di UKM Gallery dan Paviliun Provinsi.

 

Terkait dengan diskusi perempuan berpolitik, Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan  kebijakan tidak popular yang diambil negarawan saat ini belum tentu tidak popular pada 10 tahun ke depan.

 

Sebagian masyarakat, utamanya perempuan sudah memperlihatkan jati dirinya pada ranah politik. Oleh karena itu saat ini tidak lagi mempersoalkan kuota 30% perempuan di parlemen. Mereka harus semakin aktif dalam kapasitasnya sebagai anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif.

 

“Karena itu seorang negarawan harus visioner, bisa mengambil keputusan untuk masa depan yang dinilai baik bagi generasi penerus. Sehingga anak cucu mereka dan sejarawan akan mencatat perbuatan baiknya sehingga menjadi peninggalan yang baik,” katanya.

 

Dikemukakan, negarawan saat ini lebih takut kepada sejarawan ketimbang wartawan. Karena wartawan hanya mempublikasikan berita saat kejadian berlangsung. Sementara sejarawan akan menulis kejadian itu dan membuat opini di masa datang,” ujarnya.

 

 

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Marissa Saraswati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top