Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ASOSIASI TANJUNG PERAK protes rencana kedatangan 3 kapal perang AS

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 14 Mei 2012  |  17:40 WIB

 

SURABAYA: Sejumlah Asosiasi Pengusaha di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mengajukan protes keras untuk menunjukkan keberatan atas rencana kedatangan tiga unit kapal perang milik Armada ke-7 Amerika Serikat yang akan sandar di dermaga Jamrud Utara selama 10 hari yang diperkirakan sandar pada 28 Mei–8 Juni 2012.
 
Pernyataan sikap tersebut dilontarkan menyusul keberadaan tiga unit kapal perang AS itu dinilai akan mengganggu kelancaran arus bongkar muat dan diperkirakan akan memicu kerugian logistic sebesar US$4,5 juta dan dipastikan berdampak pada biaya ekonomi tinggi.
 
Ketua Umum DPC Indonesia National Ship-owner Asociation (INSA) Surabaya, Steven H Lasawengen mengatakan pihaknya bersama sejumlah asosiasi pengusaha lainnya yang berusaha di Pelabuhan Tanjung Perak menyatakan keberatan bila tiga unit kapal perang AS itu merealisasikan kunjungan ke Surabaya.
 
“Persoalannya, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya jumlah dermaganya dan kondisinya ada keterbatasan mengingat umurnya lebih dari satu abad [100 tahun]. Artinya ada keterbatasan tambatan kapal, faktanya waktu sandar dan labuh relatif lama berkisar 3-4 hari. Bila ada tiga kapal perang datang dan bersandar tetap 10 hari jelas akan merugikan,” kata Steven kepada Bisnis hari ini Senin  14 Mei 2012.
 
Para asosiasi profesi yang keberatan itu telah bersepakat untuk mengajukan surat keberatan kepada sejumlah pihak diantaranya Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Menteri Koordinator Perekonomian, Kepala Staf Angkatan Laut, Panglima Armada Timur, Gubernur Jatim, DPR RI dan DPRD Jatim.
 
Kesepakatan menyatakan keberatan itu diambil secara bulat dan dilakukan oleh lima ketua asosiasi yang hadir yang terdiri atas Steven H. L (DPC INSA Surabaya), Isdarmawan Asrikan (Gabungan Pengusaha Eksportir Seluruh Indonesia Jatim), Kody Lamahayu DPC Khusus Organda Tanjung Perak.
 
Turut hadir  juga Azis Winanda (Asosiasi Logistik dan Forweder Indonesia Jatim) dan Bambang Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jatim.
 
Khusus untuk Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jatim juga menyatakan kesepakatannya yang disampaikan Prijanto selaku ketuanya meski tidak hadir.
 
Steven menyatakan keberadaan tiga unit kapal perang AS yang sandar di dermaga Jamrud itu akan membuat kerugian banyak pihak.
 
“Setiap hari di dermaga Jamrud Utara ada sekitar 15 antrian kapal, bila tiga kapal itu bersandar secara tetap selama 10 hari maka bisa dibayangkan bila hal itu akan memicu kerugian secara multiplier effect. Ini dikarenakan jatah antrian akan bertambah panjang dan dipastikan akan membuat ekonomi biaya tinggi,” ujarnya.
 
Ketua Umum GPEI Jatim Isdarmawan Asrikan menyatakan dermaga Jamrud merupakan zona bisnis bukan untuk kepentingan militer, apalagi untuk militer asing.
 
“Rata-rata kapal sandar di Jamrud Utara berkapasitas 20.000 ton. Bila biaya logistic setiap kapal US$12.000-15.000  per hari sehingga untuk tiga kapal equivalent US$45.000 per hari sehingga total US$450.000 selama 10 hari. Saat ini antrian 10-15 kapal, maka bila antrian berlangsung 10 hari kerugian sekitar US$4,5 juta,” ungkapnya.  (sut)
 
 
 
 
 

 

BACA JUGA:

>> Indonesian shares fall 0.47% in midday break session

>> TRAGEDI SUKHOI: Penyebar  Foto Palsu Terancam  Denda Rp12 Miliar!

>> Sinyal negatif di bursa Asia menguat 

>> BBJ Targetkan Kontrak Kakao Tembus 300.000 Ton

>> 5 Kanal TERPOPULER Bisnis.com

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Yuristiarso Hidayat

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top