Peternak di Madura keluhkan harga jual sapi rendah

PAMEKASAN, Jawa Timur: Peternak Sapi di Sumenep Madura mengeluhkan harga jual sapi rendah didorong oleh kebijakan importasi daging sapi beku dan sapi bakalan.Peternak sapi di Kabupaten Pamekasan Muhammad Zainuddin mengatakan harga sapi jatuh, karena
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 04 Desember 2011  |  12:23 WIB

PAMEKASAN, Jawa Timur: Peternak Sapi di Sumenep Madura mengeluhkan harga jual sapi rendah didorong oleh kebijakan importasi daging sapi beku dan sapi bakalan.Peternak sapi di Kabupaten Pamekasan Muhammad Zainuddin mengatakan harga sapi jatuh, karena kebijakan impor.Pihaknya bersama dengan peternak lain telah mengambil solusi untuk antisipasi jatuhnya harga sapi dengan sistem lelang."Sebetulnya kami sudah memberi solusi dengan lelang, harganya bisa kembali lagi. Di sistem lelang ini, berat sapi minimal 200 kg [per ekor]," ujarnya di sela-sela Gebyar Pedet Hasil IB di Madura, kemarin.Impor daging sapi beku pada tahun ini mencapai 100.000 ton, sedangkan impor sapi bakalan diprediksi mencapai 400.000 ekor pada tahun ini.Namun, para blantik sapi meminta dalam jumlah besar, sedangkan peternak hanya menjual dalam jumlah kecil seperti 1 atau 2 ekor saja. Hal itu, katanya, menyebabkan sistem lelang sulit berjalan.Padahal, harga sapi yang baik, menurutnya, menjadi pemacu peternak untuk terus mengembangkan sapi.Peternak di Madura, katanya, yang memelihara sapi bukan hanya pemilik tetapi penggaduh [sistem bagi hasil]. Harga yang turun, lanjutnya, tidak mendorong minat masyarakat untuk memelihara sapi.Dia memaparkan kendala lain pemasaran sapi di Madura yaitu pedagang tidak menggunakan alat timbang. Kendati pemerintah sudah pernah memberikan alat timbang, tetapi akhirnya rusak. "Pedagang tidak mau pakai timbangan, tetapi pakai taksiran."Peternak menjual sapi karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal tersebut menyebabkan sering terjadi sapi masih kecil atau pedet sudah dijual ke pedagang atau tengkulak. "Pedet-pedet [anak sapi] sudah dijual ke pasar."Dia meminta pemerintah memfasilitasi ada pengumpul sapi di tingkat kabupaten, sehingga penjualan sapi dapat dilakukan dalam jumlah besar.Menurut Zaenuddin, sapi di Madura lebih berkualitas dibandingkan dengan daerah lainnya. Masyarakat di Madura masih memelihara sapi sebagai budaya seperti untuk karapan sapi atau seni saroninan. Bahkan, harga sapi yang digunakan untuk seni saroninan mencapai Rp150 juta-Rp-500 juta per ekor.Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Suparwoto Adisoemarto mengatakan populasi sapip di Madura sekitar 830.000 ekor tersebar di Kabupaten Bangkalan 194.838 ekor, Sampang 196.414 ekor, dan Pamkesan 127.044, dan Sumenep 360.312 ekor.Gebyar Pedet Hasil IB di Madura diikuti oleh 100 ekor sapi hasil inseminasi buatan (IB). Inseminasi buatan sapi di Madura persialangan sapi Madura dan Limousin.Dia mengharapkan inseminasi itu dapat menghasilkan bibit ternak sapi hasil IB berkualitas melalui pemberdayaan village breeding center.Kepala Subdit Budidaya Peternakan Kementan Wignyo Satwoko mengatakan harga sapi rendah disebabkan ada permainan para pedagang dan blantik sapi. Padahal, harga daging sapi di pasar stabil, tetapi harga sapi hidup di peternak fluktuatif. "Ini para blantik yang sering mempermainkan harga. Keuntungan terbesar di level pedagang atau blantik." (Faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top