Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konversi lahan ancam produksi pangan

JAKARTA: Laju konversi lahan pertanian yang mencapai 100.000 hektare per tahun mengancam produksi pangan jika tidak diimbangi dengan pencetakan lahan baru.Anggota Komisi IV DPR Rofi Munawar mengatakan laju konversi lahan pertanian untuk peruntukan lain
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 24 November 2011  |  16:16 WIB

JAKARTA: Laju konversi lahan pertanian yang mencapai 100.000 hektare per tahun mengancam produksi pangan jika tidak diimbangi dengan pencetakan lahan baru.Anggota Komisi IV DPR Rofi Munawar mengatakan laju konversi lahan pertanian untuk peruntukan lain mencapai titik kritis, jika tidak ada pencetakan sawah baru dan terobosan reformasi agraria, sehingga target pencapaian swasembada pangan sulit tercapai."Jika konversi lahan tak terkendali, kerawanan pangan akan mengancam," ujarnya melalui siaran pers.Badan Pertanahan Nasional berjanji akan mengalokasikan 2 juta hektare lahan untuk sektor pertanian dari 7,3 juta ha lahan terlantar.Kementerian Kehutanan menyatakan siap mendukung pencapaian target surplus beras 10 juta ton pada 2014, dengan menyediakan 200.000 ha hutan untuk pertanian di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Namun sampai saat seluruh rencana tersebut belum terealisasi.Laju konversi lahan sawah sejak 1991-2008 sebesar 365.459 ha, sedangkan penambahan luas sawah hanya 364.459 ha, sehingga hampir dua dekade telah terjadi defisit sawah 1.000 ha. Realisasi perluasan cetak sawah setiap tahun tidak pernah melebihi 25.000 ha.Menurutnya, sekitar 56%-60% produksi padi masih bertumpu pada sawah di Jawa."Presiden perlu mendorong pencetakan sawah baru, karena ini terkait permasalahan strategis pangan nasional. Rencana yang dilakukan selama ini hanya akan berakhir dengan kesia-sian jika tanpa realisasi dan komitmen untuk mewujudkannya.” ujarnya. (Bsi) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top