Pabrikan tingkatkan kapasitas produksi truk

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  20:55 WIB

 

JAKARTA: Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gikindo) akan meningkatkan investasi kapasitas produksi truk barang mencapai 60.000 unit/tahun guna mendukung revitalisasi penunjang logistik.
 
Bambang Subijanto, Wakil Ketua Umum Gaikindo, mengatakan pihaknya akan konsisten untuk memenuhi kebutuhan angkutan barang dan logistik melalui produk kendaraan yang handal, ekonomis, dan ramah lingkungan.
 
Bambang menambahkan 41 perusahaan yang merupakan anggota Gaikindo mengaku siap mendukung revitalisasi penunjang logistik. Menurutnya, Sejumlah perusahaan akan memproduksi kendaraan angkutan barang dengan gross vehicle weight di atas 10 ton.
 
Sepanjang Agustus tahun ini, Bambang mengungkapkan produksi truk angkutan barang mencapai 13.553 unit terdiri dari 8.855 unit untuk truk dengan GVW di atas 24 ton dan sisanya 10-24 ton.
 
“Produksi tersebut berangsur-angsur pulih setelah gempa dan Tsunami di Jepang,”ujarnya hari ini.
 
Bahkan, lanjut Bambang, kendaraan bermotor angkutan barang dengan GVW di atas 10 ton sudah diproduksi sejak 2010. Gaikindo mencatat produksi truk tahun lalu mencapai 19.421 unit terdiri dari 12.813 unit untuk truk dengan GVW di atas 24 ton, dan sisanya di antara 10-24 ton.
 
Menurut Bambang, jenis angkutan barang yang diproduksi oleh perusahaan anggota Gaikindo seperti tanker, dump truk, cargo, traktor head, dan truk peruntukkan khusus lainnya. Bambang berharap produksi angkutan truk terus meningkat tajam sehingga mencapai target 60.000 unit pada 2012.
 
Natsir Mansyur, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik, mengatakan sektor transportasi darat membutuhkan pasokan hingga 30.000 truk dengan kapasitas 24 ton sebagai program revitalisasi penunjang logistik.
 
Natsir menjelaskan mayoritas truk dengan kapasitas 24 ton keatas yang beroperasi di Indonesia berusia tua dan tidak efisien dalam beroperasi menunjang kelancaran arus berang sehingga perlu program revitalisasi.
 
Program revitalisasi itu perlu segera dilakukan seiring tuntutan untuk menekan biaya logistik menjadi 10% pada 2015. 
 
"Kalau tidak direvitalisasi, biaya logistik sulit ditekan," katanya. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Surya Mahendra Saputra

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top