Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BBM bersubsidi rugikan Pertamina Rp2 triliun

JAKARTA : PT Pertamina memperkirakan kerugian dari pendistribusian BBM subsidi tahun ini mencapai Rp2 triliun akibat dari alpha yang tidak dinaikkan dan kuota BBM subsidi yang ditambah.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 25 Juli 2011  |  10:57 WIB

JAKARTA : PT Pertamina memperkirakan kerugian dari pendistribusian BBM subsidi tahun ini mencapai Rp2 triliun akibat dari alpha yang tidak dinaikkan dan kuota BBM subsidi yang ditambah.

VP Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan dengan penambahan kuota tahun ini dari 38,59 juta kiloliter menjadi 40,49 juta kiloliter, otomatis kerugian Pertamina pun bertambah.

Hingga akhir April 2011, Pertamina sudah mengalami kerugian dari penyaluran BBM subsidi sebesar Rp500 miliar dengan asumsi ICP US$80 per barel dan kurs Rp9.250 per dolar.

"Buat Pertamina, penambahan kuota BBM PSO itu menambah kerugian sebenarnya, karena alpha kita tidak dinaikkan. Hingga akhir tahun perkiraan kerugian bisa Rp2 triliun,"ujarnya hari ini.

Pertamina sudah mengalami kerugian dari penyaluran BBM subsidi pada 2009 sebesar Rp4,9 triliun dan pada 2010 sebesar Rp2,5 triliun. Artinya, selama dua tahun terakhir Pertamina mengalami kerugian total Rp7,4 triliun.

Sebelumnya, DPR menolak usulan pemerintah untuk menaikkan besaran alpha Pertamina dalam menyalurkan BBM subsidi tahun ini. Semula diusulkan alpha naik rata-rata Rp23,22 per liter dari Rp595,46 per liter menjadi Rp618,68 per liter.

Harun mengatakan kini Pertamina terpaksa melakukan pengetatan kuota. Hal ini dilakukan karena semakin banyak over kuota, semakin besar kerugian Pertamina.

"Jadi kami mau ngga mau harus melakukan pengetatan terhadap kuota. Kita nggak mau lampaui kuota karena kalau makin banyak kelebihan kuota, kita makin rugi. Dengan kuota yang ada saja kita sudah rugi, apalagi kalau kuotanya ditambah," ujarnya.

Berbeda dengan Harun, Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo memperkirakan kerugian Pertamina tahun ini akibat kenaikan alpha yang tidak disetujui adalah sebesar Rp800 miliar-Rp900 miliar.

"Kita gunakan asumsi nilai tukar Rp8.700 per dolar dan ICP US$95 per barel, maka ruginya Rp800miliar-Rp900 miliar," ujarnya. (sut)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top