Bisnis.com, JAKARTA — Penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) terbesar di India sepanjang 2026, SBI Fund Management, mencatat permintaan fantastis senilai 2,97 triliun rupee atau sekitar US$30,7 miliar.
Antusiasme investor institusi mendorong IPO senilai US$1 miliar itu mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 41,6 kali.
Berdasarkan laporan CNBC International, Jumat (17/7/2026), SBI Fund Management, perusahaan patungan antara State Bank of India dan Amundi Group asal Eropa, menawarkan saham untuk menghimpun dana sebesar 97,9 miliar rupee atau sekitar US$1 miliar.
Porsi saham yang dialokasikan bagi qualified institutional buyers (QIB) menjadi penopang utama tingginya permintaan. Segmen tersebut mengalami kelebihan permintaan hingga 140 kali, dengan mayoritas pesanan berasal dari investor institusi domestik seperti bank dan perusahaan asuransi.
Di sisi lain, minat investor ritel relatif lebih rendah. Porsi untuk investor ritel hanya mencatat tingkat pemesanan sebesar 3,6 kali dari jumlah saham yang ditawarkan. Masa penawaran IPO tersebut resmi ditutup pada Kamis.
Tingginya permintaan terhadap SBI Fund Management dinilai menjadi sinyal positif bagi pasar modal India yang bersiap menyambut sejumlah IPO berukuran lebih besar pada tahun ini. Dua di antaranya adalah National Stock Exchange (NSE), bursa saham terbesar di India, dan Jio Platforms, operator telekomunikasi terbesar di negara tersebut.
Baca Juga
Berdasarkan estimasi Prime Database yang berbasis di Mumbai, masing-masing perusahaan diperkirakan mampu menghimpun dana lebih dari US$3 miliar melalui IPO.
Selama dua tahun terakhir, India menjadi pasar IPO paling aktif di dunia berdasarkan jumlah emiten yang melantai di bursa. Namun, aktivitas pencatatan saham baru sempat melambat pada paruh pertama 2026.
Perlambatan tersebut dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik Iran yang menekan perekonomian India dan mengurangi optimisme terhadap konsumsi domestik. Pada saat yang sama, arus investasi global lebih banyak mengalir ke saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI), sektor yang hingga kini belum memiliki pemain dominan dari India.
Akibatnya, indeks acuan Sensex telah melemah lebih dari 9,4% sejak awal tahun, sedangkan Nifty 50 turun sekitar 7,9% pada periode yang sama.
Meski demikian, setelah tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat pada Juni lalu, pasar saham India mulai menunjukkan pemulihan. Sejumlah perusahaan kembali mengumumkan rencana penghimpunan dana melalui pasar modal.
Secara keseluruhan, nilai penawaran saham baru di India diperkirakan dapat mencapai US$50 miliar sepanjang tahun ini. Namun, kelanjutan konflik Iran masih menjadi salah satu risiko utama yang berpotensi memengaruhi sentimen investor.
Investor kini akan mencermati debut perdagangan saham SBI Fund Management pada pekan depan. Kinerja positif setelah IPO diyakini dapat meningkatkan minat investor terhadap penawaran saham baru berikutnya.
Adapun hingga Maret 2026, SBI Fund Management tercatat sebagai perusahaan manajemen aset terbesar di India dengan total aset kelolaan mencapai 29,5 triliun rupee atau sekitar US$395 miliar.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.