Trafik Penerbangan Diproyeksi Naik 4,5% saat Lebaran, AirNav Waspadai Gangguan Operasional

AirNav Indonesia memproyeksikan peningkatan trafik penerbangan 4,5% saat Lebaran 2026, dengan puncak arus mudik pada H-3. Mereka waspadai gangguan operasional seperti cuaca ekstrem dan balon udara liar.
Pesawat garuda Indonesia mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/6/2024). Bisnis/Paulus Tandi Bone
Pesawat garuda Indonesia mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/6/2024). Bisnis/Paulus Tandi Bone
Executive Brief
  • AirNav Indonesia memproyeksikan peningkatan trafik penerbangan sebesar 4,5% selama Lebaran, dengan puncak arus mudik pada H-3 Lebaran mencapai 4.801 pergerakan.
  • AirNav telah menyiapkan langkah kesiapan operasional, termasuk penugasan lebih dari 1.000 petugas dan penguatan koordinasi untuk memastikan pelayanan navigasi penerbangan berjalan aman dan efisien.
  • AirNav mewaspadai gangguan operasional seperti cuaca ekstrem dan balon udara liar, terutama di wilayah Wonosobo dan Pekalongan, untuk menjaga keselamatan penerbangan selama periode Lebaran.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia (AirNav) memproyeksikan adanya peningkatan trafik penerbangan sebanyak 4,5% pada periode Lebaran tahun ini. 

Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro menjelaskan, secara total proyeksi lalu lintas pesawat akan mencapai 71.902 pergerakan. Tertinggi, sekaligus menjadi puncak arus mudik, diprediksi pada H-3 Lebaran atau 18 Maret, dengan jumlah 4.801 pergerakan. 

Meski demikian, penerapan work from anywhere (WFA) terbukti mengurai kepadatan lalu lintas. Terpantau peningkatan pergerakan terjadi lebih awal sejak H-8 Lebaran. 

“Jadi ini peningkatannya sangat tinggi dari prediksi dan dari realisasi 2025,” ujarnya dalam konferensi pers, dikutip pada Selasa (17/3/2026). 

Berdasarkan realisasi pada 15 Maret 2026 atau H-6 Lebaran, pergerakan penerbangan mencapai 4.765 pergerakan atau lebih tinggi dari proyeksi 4.657 pergerakan. 

Kemudian pada H-7 Lebaran, tercatat hampir 5.000 pergerakan dari target 4.623 pergerakan. Bahkan pada H-8, terdapat 5.060 pergerakan dari target 4.066 pergerakan. 

Dalam menghadapi peningkatan tersebut, Setio menyebutkan bahwa pihaknya telah mengantisipasi melalui berbagai langkah kesiapan operasional di seluruh unit layanan navigasi penerbangan untuk memastikan pelayanan navigasi penerbangan selama periode Angkutan Lebaran dapat berjalan aman, lancar, dan efisien. 

“Kesiapan tersebut personel operasional, fasilitas navigasi penerbangan, serta penguatan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan,” jelas Setio. 

 Setio menjelaskan bahwa AirNav Indonesia juga memastikan kesiapan dukungan operasional yang meliputi lebih dari 2.800 fasilitas komunikasi, navigasi, surveillance, dan sistem ATC. Kemudian, untuk memperkuat dukungan operasional, AirNav juga menugaskan lebih dari 1.000 petugas Air Traffic Service Engineers untuk memastikan kesiapan dan keandalan peralatan fasilitas.

Sebagai tambahan, AirNav juga menempatkan juga sedikitnya 160 Aeronautical Information Service Officers, serta lebih dari 490 Air Communication Officers

Waspadai Gangguan Operasional 

Di tengah peningkatan arus lalu lintas tersebut, AirNav turut mewaspadai gangguan operasional yang berpotensi terjadi selama masa Angkutan Lebaran 2026. Utamanya, persoalan cuaca dan masalah balon udara liar. 

“Kemudian ini juga ada balon udara liar, ini salah satu potensi gangguan penerbangan,” tutur Satrio. 

Dua wilayah yang kerap mendapatkan sorotan akibat aktivitas balon udara liar, antara lain Kabupaten Wonosobo dan Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Namun, belakangan sejumlah wilayah lain juga mengindikasikan adanya aktivitas tersebut.

Pasalnya, AirNav mencatat adanya lonjakan balon udara yang tidak terkendali sepanjang 2021—2025. Kala Covid-19 tersebut, tercatat adanya 23 balon udara liar, kemudian pada 2025 mencapai 87 balon udara yang terbang tak terkendali dan mengganggu penerbangan. 

Selain balon udara, potensi hazard selama periode Lebaran, seperti cuaca ekstrem, abu vulkanik, potensi bird strike, serta gangguan operasional bandara maupun maskapai. 

Untuk itu, seluruh personel operasional juga diingatkan untuk meningkatkan disiplin terhadap prosedur serta koordinasi antar unit untuk menjaga keselamatan penerbangan. 

“Kami berharap kesadaran bersama dapat terus meningkat sehingga ruang udara Indonesia tetap aman bagi seluruh penerbangan,” lanjut Setio.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Thomas Mola
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro